Siti Maesyaroh
Institut Agama Islam Al-hidayah Bogor, Bogor, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peran Strategis Guru PAI Dan Budi Pekerti Dalam Pencegahan Bullying Di SMPN 1 Kemang Bogor Siti Maesyaroh; Ibrahim Bafadhol; Budi Heryanto
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 2 Mei 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i2.963

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran strategis guru PAI dan Budi Pekerti dalam pencegahan perilaku bullying, strategis penanaman nilai-nilai agama serta faktor penghambat dan pendukung implementasinya di SMPN 1 Kemang Bogor, melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI dan Budi Pekerti menjalankan empat peran yang saling melengkapi yakni pendidik moral, teladan (uswah hasanah), motivator spiritual, dan penggerak program kelembagaan melalui empat strategis penanaman nilai agama, yaitu dalil Al-Qur’an dan kisah teladan Nabi, pembiasaan keagamaan, pembentukan agen teman sebaya, serta penguatan karakter melalui proyek P5. Teladan dan pembentukan kebiasaan keagamaan terbukti efektif karena keduanya menangani aspek afektif dan konatif. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya membahas peran guru PAI dan pencegahan bullying secara berbeda, penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan membentuk model kolaborasi spiritual-psikologis antara guru PAI dan BK, serta secara empiris menunjukkan bahwa nilai Islam dapat diintegrasikan secara sistematis ke dalam strategis pencegahan bullying berbasis sekolah yang masih kurang teliti dalam literatur pendidikan Islam di Indonesia. Faktor penghambat utama yakni keterlibatan keluarga yang lemah, pengawasan terbatas, dan kesenjangan antara pemahaman nilai dan penerapan perilaku, sedangkan faktor pendukung yakni komitmen kelembagaan dan kepemimpinan sekolah, keterlibatan aktif siswa dalam program Duta Anti-kekerasan, dan Kurikulum Merdeka. Temuan ini memiliki implikasi bagi pihak terkait: guru PAI harus konsisten menjadi teladan dan membina kegiatan keagamaan; pimpinan sekolah perlu meresmikan kolaborasi antara guru PAI dan BK serta merancang ulang program Duta Anti-Kekerasan agar lebih partisipatif; dan penyusun kebijakan harus mendorong penguatan kemitraan sistematis antara sekolah dan keluarga.