Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi pada Usaha Ayam Petelur di Desa Kumbayau Kota Sawahlunto Finni Jum’atul Ummy; Santi Deswita
Indo Green Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i3.601

Abstract

Penelitian ini berfokus pada kekurangan dalam pengelolaan akuntansi biaya di UMKM, khususnya di Rinaldi Farm, usaha peternakan ayam petelur, yang masih mengandalkan pencatatan sederhana dan manual. Masalah utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah bahwa perhitungan harga pokok produksi (HPP) yang dilakukan oleh peternak belum memadai, karena tidak mencakup semua elemen biaya secara rinci, termasuk biaya penyusutan dan biaya overhead lainnya, yang dapat berpengaruh pada akurasi penentuan harga jual dan laba. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi dan menganalisis perhitungan harga pokok produksi di Rinaldi Farm dengan menerapkan metode Full Costing. Metode Full Costing diambil karena merupakan cara penentuan biaya produksi yang mempertimbangkan semua komponen biaya, baik yang bersifat variabel maupun tetap, dalam menghitung harga pokok produksi. Hasil penelitian ini mengungkapkan adanya perbedaan yang signifikan antara perhitungan harga pokok produksi menurut peternakan Rinaldi Farm dan metode Full Costing. HPP yang dihitung oleh peternakan Rinaldi Farm hanya mencapai Rp1.044 per butir. Sementara itu, analisis menggunakan metode Full Costing yang mencakup biaya bahan baku (seperti pakan), biaya tenaga kerja langsung, serta biaya overhead pabrik (termasuk biaya penyusutan, biaya operasional, biaya bibit, dan biaya penolong/vaksin) menghasilkan harga pokok produksi sebesar Rp1.594 per butir. Penelitian ini menegaskan bahwa perhitungan HPP dengan metode Full Costing jauh lebih tepat dan akurat dibandingkan dengan metode yang saat ini digunakan oleh peternakan, karena mempertimbangkan semua komponen biaya produksi.
Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi pada Usaha Ayam Petelur di Desa Kumbayau Kota Sawahlunto Finni Jum’atul Ummy; Santi Deswita
Indo Green Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i3.601

Abstract

Penelitian ini berfokus pada kekurangan dalam pengelolaan akuntansi biaya di UMKM, khususnya di Rinaldi Farm, usaha peternakan ayam petelur, yang masih mengandalkan pencatatan sederhana dan manual. Masalah utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah bahwa perhitungan harga pokok produksi (HPP) yang dilakukan oleh peternak belum memadai, karena tidak mencakup semua elemen biaya secara rinci, termasuk biaya penyusutan dan biaya overhead lainnya, yang dapat berpengaruh pada akurasi penentuan harga jual dan laba. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi dan menganalisis perhitungan harga pokok produksi di Rinaldi Farm dengan menerapkan metode Full Costing. Metode Full Costing diambil karena merupakan cara penentuan biaya produksi yang mempertimbangkan semua komponen biaya, baik yang bersifat variabel maupun tetap, dalam menghitung harga pokok produksi. Hasil penelitian ini mengungkapkan adanya perbedaan yang signifikan antara perhitungan harga pokok produksi menurut peternakan Rinaldi Farm dan metode Full Costing. HPP yang dihitung oleh peternakan Rinaldi Farm hanya mencapai Rp1.044 per butir. Sementara itu, analisis menggunakan metode Full Costing yang mencakup biaya bahan baku (seperti pakan), biaya tenaga kerja langsung, serta biaya overhead pabrik (termasuk biaya penyusutan, biaya operasional, biaya bibit, dan biaya penolong/vaksin) menghasilkan harga pokok produksi sebesar Rp1.594 per butir. Penelitian ini menegaskan bahwa perhitungan HPP dengan metode Full Costing jauh lebih tepat dan akurat dibandingkan dengan metode yang saat ini digunakan oleh peternakan, karena mempertimbangkan semua komponen biaya produksi.