Penelitian ini mengkaji peran komunikasi interpersonal dalam membangun solidaritas antar peserta open trip pada komunitas Pondok Gede Adventure (PGA) Bekasi. Latar belakang penelitian menyoroti transformasi tren traveling menjadi gaya hidup modern, salah satunya melalui konsep open trip. Meskipun diminati karena efisiensi biaya dan kepraktisan, perbedaan karakteristik latar belakang peserta sering kali menimbulkan kendala awal bersosialisasi, seperti sikap pasif dan canggung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas peran komunikasi interpersonal dan keterbukaan diri (self disclosure) dalam membentuk ikatan solidaritas tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif dengan mengikuti langsung kegiatan, wawancara terstruktur bersama tiga informan (ketua pelaksana, tour leader, dan peserta), serta dokumentasi. Analisis data menerapkan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal melalui pola dua arah dan sikap positif panitia berhasil mendorong peserta untuk beradaptasi. Unsur-unsur komunikasi seperti keterbukaan, empati, sikap mendukung, dan kesetaraan terbukti efektif mengatasi kecanggungan peserta. Solidaritas organik antar peserta terbentuk secara bertahap melalui pengalaman menghadapi tantangan bersama serta dapat dipertahankan pascakegiatan melalui komunikasi intensif di media social.