Suminto A Sayuti
Program Studi Megister Pendidikan Seni Pascasarjana, Universitas Negeri Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kajian Simbolik Pakaian Adat Kesultanan Kutai Kartanegara sebagai Media Edukasi Publik Berbasis Kearifan Lokal Windu Setiawan; Suminto A Sayuti
Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru Vol. 10 No. 3 (2025): September 2025 Edition
Publisher : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51169/ideguru.v10i3.2281

Abstract

Penggeseran pemahaman dari masyarakat terhadap makna simbolik pakaian adat akibat arus modernisasi menyebabkan pakaian adat kerap dipahami hanya sebatas busana seremonial dalam sebuah upacara maupun ritual adat, termasuk pada Takwo Kustim dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Padahal, pakaian ini memuat sistem simbol budaya yang merepresentasikan identitas, struktur sosial, dan nilai kearifan lokal masyarakat Kutai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menafsirkan makna simbolik elemen pakaian adat Takwo Kustim serta menjelaskan potensinya sebagai media edukasi publik berbasis kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengombinasikan kajian semiotika Charles Sanders Peirce dan etnografi. Data diperoleh melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui proses klasifikasi, penafsiran, dan pemaknaan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen material, warna, motif, dan atribut Takwo Kustim mengandung makna simbolik yang merepresentasikan kewibawaan, legitimasi kekuasaan, spiritualitas, serta kesinambungan nilai adat Kesultanan Kutai. Temuan ini menegaskan Takwo Kustim tidak hanya sebagai artefak budaya, melainkan juga memiliki potensi besar sebagai media edukasi publik yang kontekstual. Simpulan penelitian menunjukkan pemanfaatan Takwo Kustim sebagai media edukasi publik dapat memperkuat literasi budaya, identitas kolektif, dan pelestarian kearifan lokal, serta berprospek dikembangkan sebagai sumber pembelajaran seni dan budaya di ruang pendidikan dan publik.