Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam bidang industri manufaktur. Hal ini terjadi karena tingginya risiko kecelakaan kerja yang dapat memengaruhi produktivitas dan kesejahteraan tenaga kerja. Hasil obervasi di PT. JKL menunjukkan masih rendahnya kesadaran tenaga kerja dalam menerapkan budaya K3, terutama terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), kepatuhan terhadap Strandar Operasional Prosedur (SOP), dan pelaporan insiden kecelakaan kerja. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas intervensi self-awareness dalam meningkatkan budaya K3 pada tenaga kerja bagian produksi dan gudal PT. JKL. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan desain one group pre-test post-test. Sebanyak 34 karyawan mengikuti kegiatan, namun hanya 29 data yang dianalisis setelah dilakukan proses pembersihan data berupa penghapusan data yang tidak lengkap dan data yang tidak memenuhi kriteria pasangan pre-test dan post-test. Intervensi diberikan melalui program psikoedukasi berbasis self-awareness yang meliputi edukasi K3, refleksi diri, studi kasus, kecelakaan kerja, dan simulasi pelaporan insiden. Hasil uji normalitas menunjukkan data berdistribusi normal sehingga analisis dilanjutkan menggunakan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata budaya K3 dari 39,45, pada pre-test menjadi 45,52 pada post-test. Uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan antara skor sebelum dan sesudah intervensi dengan nilai t(33) = 6,356 dan p<0,001. emuan ini menunjukkan bahwa intervensi self-awareness efektif dalam memperkuat budaya K3 pada tenaga kerja industri manufaktur. Program psikoedukasi berbasis self-awareness dapat menjadi strategi preventif yang efektif untuk meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan kerja serta mendukung terbentuknya budaya keselamatan yang berkelanjutan di lingkungan industri.