Meningkatnya ketertarikan masyarakat urban terhadap pasar bekas menunjukkan bahwa ruang-ruang ini tidak lagi dipahami semata sebagai arena transaksi ekonomi, melainkan sebagai ruang pengalaman kultural. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman fenomenologis pengunjung Pasar Klitikan Yogyakarta, menganalisis bagaimana atmosfer pasar dan objek-objek bekas membentuk pengalaman nostalgia, serta memahami pasar bekas sebagai ruang budaya urban alternatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka fenomenologi budaya. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif terhadap pengunjung dan pedagang, serta dokumentasi terbatas. Analisis data dilakukan secara interpretatif melalui tahapan reduksi data, pengkodean, kategorisasi tema, dan penafsiran makna pengalaman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa atmosfer pasar terbentuk melalui intensitas sensori, kepadatan ruang, dan interaksi sosial spontan yang menghasilkan pengalaman afektif khas. Objek-objek bekas berfungsi sebagai pemicu nostalgia dengan mengaktifkan ingatan personal dan kolektif melalui relasi tubuh, benda, dan ruang. Selain itu, praktik “melihat tanpa membeli” muncul sebagai praktik kultural yang didorong oleh rasa ingin tahu, pencarian narasi, serta kebutuhan sensori dan afektif.Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pasar Klitikan Yogyakarta merupakan ruang atmosfer dan nostalgia yang berperan penting dalam lanskap budaya urban. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan kajian fenomenologi budaya dan studi budaya urban dengan menempatkan pasar bekas sebagai ruang produksi afeksi dan memori dalam kehidupan kota kontemporer.