Mariska Lauterboom
Sosiologi Agama, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Satya Wacana, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Semiotika Peirce dan Barthes terhadap Konstruksi Identitas Sosial dalam Struktur Simbuang Batu Bori Kalimbuang, Toraja Utara, Sulawesi Selatan Yusticia Paembonan; Izak Y.M. Lattu; Mariska Lauterboom
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 2 (2026): JUPIN Mei 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.2355

Abstract

Warisan megalitik Simbuang Batu di kompleks Bori Kalimbuang merupakan sistem tanda budaya material yang menyimpan makna sosial, hierarki, dan identitas kolektif masyarakat Toraja Utara. Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem tanda Simbuang Batu sebagai medium komunikasi visual lintas generasi, mengkaji relasi stratifikasi sosial tana' dengan hak kultural pendirian monolit, serta memetakan dinamika pergeseran norma adat pascakristianisasi melalui pendekatan semiotika integratif. Metode kualitatif deskriptif-analitis diterapkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap delapan informan kunci, dengan analisis data menggunakan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara siklikal. Hasil penelitian menunjukkan Simbuang Batu beroperasi secara simultan sebagai icon, index, dan symbol dalam kerangka Peirce, sekaligus menghasilkan lapisan denotasi, konotasi, dan mitos dalam kerangka Barthes. Eksklusivitas hak pendirian bersifat kategoris berdasarkan strata tana' bulaan dan tana' bassi, tanpa korelasi langsung dengan dimensi fisik monolit. Pascakristianisasi, terjadi remythologization menuju formasi makna yang lebih terbuka secara finansial, namun syarat ritual material tetap bertahan karena cultural inertia yang kuat. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian semiotika budaya material di Indonesia, dan merekomendasikan pendekatan pelestarian yang mengakomodasi dinamika negosiasi budaya tanpa mengorbankan integritas ritual.