Pemahaman konsep yang keliru, atau disebut miskonsepsi, dapat menghambat proses belajar peserta didik. Dalam fisika, umumnya miskonsepsi terjadi pada materi mekanika, termasuk materi momentum dan impuls. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi miskonsepsi dan penyebabnya pada materi tersebut. Instrumen yang digunakan adalah five-tier diagnostic test yang terdiri dari 14 butir soal pilihan ganda lima tingkat. Instrumen yang digunakan telah divalidasi oleh ahli dan menunjukkan reliabilitas yang baik, daya pembeda dan tingkat kesukaran yang cukup. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-kuantitatif. Partisipan penelitian terdiri dari 90 siswa kelas XII (16-18 tahun) di salah satu SMA Negeri di Kota Cimahi. Penentuan sampel dilakukan secara convenience sampling dari tiga kelas penjurusan yang berbeda berdasarkan Kurikulum Merdeka. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebanyak 8% siswa mengalami miskonsepsi, 29% siswa mengalami pemahaman parsial, 60% siswa mengalami pemahaman utuh, dan 4% siswa mengalami tidak memahami. Miskonsepsi paling banyak ditemukan pada kelas C (penjurusan teknik geofisika) yaitu sebesar 15% dari keseluruhan terjadinya miskonsepsi, dengan penyebab utama berasal dari konsep pemikiran pribadi (49%). Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa telah memahami konsep dasar momentum dan impuls, namun sebagian masih ditemukan miskonsepsi yang signifikan, terutama pada kelas tertentu. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar siswa telah memiliki pemahaman sebagian besar siswa telah memiliki pemahaman konsep yang baik, miskonsepsi masih muncul pada subkonsep tertentu, terutama penerapan impuls dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar awal bagi guru fisika untuk merancang pembelajaran remedial berbasis diagnosis konseptual pada kelas peminatan yang berbeda.