Mohammad Nawir
Datokarama State Islamic University Palu, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Patterns of Hadith Interpretation in Sufism and Islamic Jurisprudence Literature Mohammad Nawir
Al-Munir: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8 No 1 (2026): Al-Munir : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/al-munir.v8i1.3862

Abstract

This study examines the interpretative patterns of hadith within Sufi and juristic (fiqh) literature in relation to the values of religious moderation. The diversity of approaches in understanding hadith reflects different epistemological orientations which, if not integrated, may lead to partial interpretations. This research aims to analyze how hadiths are interpreted within Sufi and fiqh traditions and how these interpretations contribute to the construction of moderation values in Islam. This study is a qualitative library research employing a hermeneutical approach, particularly the double movement theory of Fazlur Rahman, to connect textual meaning with contemporary context. The data are derived from classical and contemporary Sufi and fiqh literature, focusing on the use and interpretation of hadith within these works. The findings show that differences in hadith interpretation between Sufi and fiqh traditions are not rooted in the substance of the teachings but in their methodological orientations. Sufi literature tends to interpret hadith in an ethical, symbolic, and reflective manner emphasizing inner transformation, while fiqh literature approaches hadith in a normative, systematic, and applicative framework focusing on legal and social order. However, these differences are not contradictory but complementary in representing the concept of religious moderation. This study further finds that moderation in hadith is a multidimensional construct formed through the integration of internal spiritual values and external normative principles. Therefore, an integrative approach that combines Sufi and fiqh perspectives is essential to achieve a comprehensive understanding of religious moderation in contemporary Islamic thought. Abstrak Penelitian ini mengkaji pola interpretasi hadis dalam literatur tasawuf dan fikih dalam kaitannya dengan nilai-nilai moderasi beragama. Keberagaman pendekatan dalam memahami hadis mencerminkan perbedaan orientasi epistemologis yang, jika tidak diintegrasikan, dapat menghasilkan pemahaman yang parsial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana hadis diinterpretasikan dalam tradisi tasawuf dan fikih serta bagaimana interpretasi tersebut berkontribusi terhadap konstruksi nilai moderasi dalam Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan menggunakan pendekatan hermeneutika, khususnya teori double movement dari Fazlur Rahman, untuk menghubungkan makna tekstual dengan konteks kontemporer. Data diperoleh dari literatur tasawuf dan fikih klasik maupun kontemporer dengan fokus pada penggunaan dan interpretasi hadis dalam karya-karya tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan interpretasi hadis antara tradisi tasawuf dan fikih tidak terletak pada substansi ajarannya, melainkan pada orientasi metodologisnya. Literatur tasawuf cenderung menafsirkan hadis secara etis, simbolik, dan reflektif dengan menekankan transformasi batin, sementara literatur fikih memandang hadis secara normatif, sistematis, dan aplikatif dengan fokus pada aspek hukum dan keteraturan sosial. Perbedaan tersebut bukan bersifat kontradiktif, melainkan saling melengkapi dalam merepresentasikan konsep moderasi beragama. Penelitian ini juga menemukan bahwa moderasi dalam hadis merupakan konstruksi multidimensional yang terbentuk melalui integrasi antara nilai spiritual internal dan prinsip normatif eksternal. Oleh karena itu, pendekatan integratif yang menggabungkan perspektif tasawuf dan fikih menjadi penting untuk menghasilkan pemahaman moderasi beragama yang komprehensif dalam pemikiran Islam kontemporer.