Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengembangan Sumber Energi Angin di Indonesia: Minim Potensi atau Belum Menjadi Preferensi? Maria Agnes
Jurnal Rekayasa Bahan Alam dan Energi Berkelanjutan Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/rbaet.v10i1.2983

Abstract

Kebijakan Energi Nasional (KEN) Indonesia yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 79 Tahun 2014 menargetkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 17% untuk tahun 2020 dan 23% untuk tahun 2025. Walaupun upaya peningkatan kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) EBT telah dilakukan, namun realisasi rasio bauran EBT pada akhir tahun 2020 masih berada di bawah target yaitu sebesar 11,2%. Data ini menunjukkan bahwa pemanfaatan EBT, khususnya dari tenaga angin, masih jauh dari optimal. Angka pasokan energi primer untuk tenaga angin masih sangat kecil daripada angka pasokan energi primer dari bioenergi, panas bumi dan air. Angka pasokan energi primer yang kecil serta tidak adanya penambahan kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) sejak tahun 2019 memperlihatkan bahwa tenaga angin belum menjadi alternatif sumber energi pilihan dalam menghasilkan energi listrik. Lebih jauh, kondisi ini juga mengindikasikan jika diversifikasi energi tersebut masih berfokus kepada konversi dari penggunaan energi fosil kepada EBT dan belum mempertimbangkan proporsi pemanfaatan dari setiap jenis sumber EBT yang tersedia. Dilatarbelakangi oleh kondisi Indonesia saat ini di mana pemanfaatan tenaga angin terkesan masih sangat diabaikan, maka studi literatur dilakukan terhadap strategi-strategi keberhasilan India, Vietnam dan Pakistan dalam menjadikan tenaga angin sebagai alternatif sumber energi listrik pilihan.