Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Indigenous Communities’ Spatial Perceptions of the Concepts of “Sacred Space” and “Profane Space” A Study of the Traditional Village of Beleq Gumantar Muhammad Agung Bahroni; Antariksa Antariksa; Yusfan Adeputera Yusran
Abdi Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2026): Abdi Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/6v853j92

Abstract

Space is an important element in indigenous communities because it reflects cultural values, belief systems, and patterns of social life. This study aims to analyze indigenous community perceptions of sacred and profane spaces in the Beleq Gumantar Traditional Village, North Lombok Regency, identify the forms and meanings of spaces perceived as sacred or profane, and explain how these perceptions influence spatial utilization practices. The research employed a qualitative approach with a phenomenological method. Data were collected through field observations, in-depth interviews, and documentation involving traditional leaders, religious leaders, cultural custodians, and community members. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman interactive model, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The results indicate that the indigenous community has a clear perception of the distinction between sacred and profane spaces. Sacred spaces are associated with ritual activities, religious practices, and ancestral reverence, while profane spaces are used for social, economic, and domestic activities. These perceptions influence patterns of spatial utilization, accessibility, and customary regulations governing the use of space. The study also reveals that perceptions of sacred and profane spaces contribute to maintaining social order, preserving cultural identity, and sustaining traditional spatial systems despite the challenges posed by modernization. This research contributes to the understanding of spatial perception in indigenous communities and provides insights for cultural heritage preservation and culturally based spatial planning.
Kosmologi Spasial Arsitektur Tradisional Suku Sasak Desa Adat Beleq Gumantar Lombok Utara Muhammad Agung Bahroni; Antariksa; Yusfan Adeputera Yusran
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.8943

Abstract

Penelitian ini menganalisis dan mengidentifikasi hubungan antara sistem kosmologi masyarakat Suku Sasak di Desa Adat Beleq Gumantar, Lombok Utara dengan organisasi spasial pada permukiman dan arsitektur tradisional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode interpretatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi terstruktur dengan masyarakat dan tokoh adat, dokumentasi, serta pemetaan spasial. Data dianalisis dengan model interaktif, meliputi: reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil menunjukkan bahwa organisasi spasial permukiman dan bangunan tradisional dibentuk berdasarkan sistem kosmologi masyarakat Sasak melalui hierarki ruang, orientasi pada Gunung Rinjani, zonasi sakral–profan, tata letak, serta besaran dan struktur spasial. Bale Mengina, Sambi, dan Berugak Sekenem merupakan nilai kosmologi dalam pembagian ruang vertikal dan horizontal, orientasi bangunan, serta penggunaan struktur dan material. Kosmologi spasial bukan sekadar landasan filosofis arsitektur, tetapi juga mekanisme pelestarian budaya, konservasi lingkungan, serta penguatan identitas masyarakat adat. Penelitian ini memperkaya kajian arsitektur vernakular lewat pendekatan integratif aspek sosial-budaya, sekaligus menjadi dasar pelestarian dan perencanaan ruang adat.