Kuwatno Kuwatno
Program Studi Magister Agribisnis, Universitas Sjakhyakirti Palembang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Struktur Pasar Dan Pendapatan Petani Serta Keuntungan Pedagang Karet di Desa Sukarami Kecamatan Sungai Rotan Kabupaten Muara Enim Hermansyah Hermansyah; Nur Ahmadi; Kuwatno Kuwatno; Sukardi Sukardi
Jurnal Imiah Management Agribisnis (Jimanggis) Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Management Agribisnis (Jimanggis)
Publisher : Magister Agribisnis Program Pascasarjana Universitas Sjakhyakirti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48093/jimanggis.v7i1.415

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur pasar serta menghitung tingkat pendapatan petani dan keuntungan pedagang karet pada pasar karet terbuka di Desa Sukarami, Kecamatan Sungai Rotan, Kabupaten Muara Enim. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan penentuan lokasi secara purposive, mengingat sebagian besar masyarakat bermata pencaharian sebagai petani karet dan telah berkembang sistem pemasaran melalui pasar karet terbuka. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 46 orang, terdiri dari 40 petani yang dipilih menggunakan metode simple random sampling dan 6 pedagang yang ditentukan secara purposive. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder, dengan metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur pasar karet di Desa Sukarami mengarah pada pasar oligopoli dengan nilai Indeks Hirschman Herfindahl (IHH) sebesar 0,028. Pola pemasaran karet melibatkan petani sebagai produsen dan pedagang pengumpul sebagai perantara yang menjual ke pabrik crumb rubber di Kota Palembang. Rata-rata harga jual karet di tingkat petani sebesar Rp 7.501,-/Kg, sedangkan harga jual di tingkat pedagang pengumpul sebesar Rp 9.550,-/Kg. Rata-rata pendapatan petani karet sebesar Rp 2.441.622,- per bulan. Sementara itu, keuntungan yang diperoleh pedagang pengumpul sebesar Rp 644,-/Kg atau sekitar Rp 3.587.133,- per minggu, dengan margin pemasaran sebesar Rp 2.049,-/Kg. Keberadaan pasar karet terbuka memberikan peluang bagi petani dalam melakukan transaksi secara langsung dan meningkatkan pendapatan, namun struktur pasar yang cenderung oligopoli menyebabkan posisi tawar petani masih relatif lemah. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kualitas produk, perbaikan sistem pemasaran, serta dukungan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani karet.
Faktor-Faktor Pendorong Petani Karet Menjual Bokarnya Ke Pasar Karet Di Desa Sukarami Kecamatan Sungai Rotan Kabupaten Muara Enim Putri Lestari; Kuwatno Kuwatno; Sukardi Sukardi; Nur Ahmadi
Jurnal Imiah Management Agribisnis (Jimanggis) Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Management Agribisnis (Jimanggis)
Publisher : Magister Agribisnis Program Pascasarjana Universitas Sjakhyakirti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48093/jimanggis.v7i1.416

Abstract

Salah satu komoditas utama di Provinsi Sumatera Selatan ialah tanaman karet yang merupakan komoditas penting dalam menunjang perekonomian negara. Hal ini dikarenakan pada provinsi Sumatera Selatan banyak petani yang mengandalkan komoditi karet sebagai salah satu sumber mata pencaharian utama dalam usaha pemenuhan kebutuhan hidup. Kabupaten Muara Enim merupakan salah satu kabupaten yang memiliki sumbangan terbesar kedua terhadap produksi karet yang terus mengalami pertumbuhan yang cukup baik terhadap pertanian karet dengan pola pemasaran terbuka yang mengalami perkembangan. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Muara Enim, 2022, Luas areal dan produksi tanaman karet di Kabupaten Muara Enim adalah 148.377 Ha dan produksi 172.940,02 Ton dengan produktivitas 1,165 Ton/Ha. Kecamatan Sungai Rotan merupakan kecamatan dengan luas areal karet terbesar kesepuluh di Kabupaten Muara Enim dengan luas areal sebesar 8.368 Ha dan produksi 9.012,67 ton dengan produktivitas 1,07 Ton/Ha. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Rata-rata harga bokar yang di peroleh petani karet di Desa Sukarami yakni Rp 7.500. Rata-rata pendapatan yang diperoleh petani karet Desa Sukarami yakni Rp 2.400.000.- . Faktor internal dan eksternal merupakan faktor- faktor pendorong petani karet di Desa Sukarami untuk menjual bokarnya di pasar karet terbuka. Faktor internal yang mendorong petani menjual bokarnya di pasar karet terbuka adalah kenyamanan dalam mendapatkan harga yang sesuai, kualitas dan mutu dari bokar dan transaksi yang mudah dan langsung secara cash. Sedangkan, Faktor eksternal adalah harga yang di tawarkan relatif lebih tinggi, lokasi pasar karet terbuka tidak terlalu jauh dari kebun dan tempat tinggal, sistem pasar yang bebas dan tertib, petani dapat mendapatkan harga sesuai kualitas bokarnya.
Analisis Produktivitas Dan Pendapatan Usaha Tani Kelapa Sawit Di Kebun Plasma KUD Sejahtera Siti Nur Apriyani; Yudhi Zuriah Wirya Purba; Kuwatno Kuwatno; Sukardi Sukardi; Nur Ahmadi
Jurnal Imiah Management Agribisnis (Jimanggis) Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Management Agribisnis (Jimanggis)
Publisher : Magister Agribisnis Program Pascasarjana Universitas Sjakhyakirti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48093/jimanggis.v7i1.417

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas dan pendapatan usaha tani kelapa sawit di KUD Sejahtera, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan menggunakan angket sebagai instrumen pengumpulan data primer, serta pengamatan langsung dan dokumentasi untuk memperoleh data sekunder.Penelitian ini fokus pada analisis penggunaan faktor produksi terhadap produktivitas usaha tani kelapa sawit di KUD Sejahtera dan kontribusi pendapatan petani kelapa sawit terhadap pendapatan. Data primer diperoleh melalui angket yang diisi oleh responden, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur dan instansi terkait. Metode pengolahan data melibatkan tabulasi dan analisis matematis serta penjelasan deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan kelapa sawit merupakan faktor penting yang mempengaruhi produktivitas tanaman. Pemeliharaan tersebut terbagi menjadi fase tanaman belum menghasilkan (TBM) dan fase tanaman menghasilkan (TM). Aspek-aspek pemeliharaan yang perlu diperhatikan meliputi pengendalian gulma, penunasan pelepah, pengendalian hama dan penyakit, sertapemupukan.Produktivitas kelapa sawit yang kurang maksimal di kecamatan Babat Toman disebabkan oleh pemeliharaan yang kurang baik. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya pemeliharaan yang optimal dalam meningkatkan produktivitas kelapa sawit dan kesejahteraan petani. Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas usahatani kelapa sawit adalah jumlah tenaga kerja, sedangkan faktor pupuk NPK, herbisida dan pupuk kendang tidak mempengaruhi produktivitas usahatani kelapa sawit.Pendapatan bersih petani usahatani kelapa sawit yaitu sebesar Rp21.586.716 per hektar atau Rp41.644.174 per luas garapan. Pendapatan usahatani kelapa sawit menyumbang 83,34% dari total pendapatan petani di KUD Sejahtera. Sementara hanya 16,66% disumbang dari pendapatan non usahatani kelapa sawit.Pendapatan usahatani kelapa sawit per bulan hanya sebesar Rp1.798.893 per hektar per bulan. Begitu pula dengan pendapatan total petani kelapa sawit yang telah ditambah dengan usaha sampingan hanya sebesar Rp2.158.583. Sementara nilai UMP Tahun 2022 sebesar Rp3.144.446 dan UMP Tahun 2023 sebesar Rp3.404.177. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Petani Kelapa Sawit di KUD Sejahtera masih dibawah tingkat keseejahteraan.