Wahidin Wahidin
Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Singaperbangsa Karawang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MANAJEMEN KURIKULUM MERDEKA MELALUI PENDEKATAN DEEP LEARING BERBASIS LINGKUNGAN BELAJAR KOLABORATIF PADA SISWA KELAS XI DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 KOTA BEKASI Anisa Dwi Mulia; Acep Nurlaeli; Wahidin Wahidin
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.11112

Abstract

The implementation of the Merdeka Curriculum in madrasah institutions demands systematic and innovative curriculum management; however, a significant gap remains between ideal policy and its actual execution in the field, particularly regarding teachers' readiness to apply deep learning approaches and the suboptimal development of collaborative learning environments. This study focuses on the management of the Merdeka Curriculum through a deep learning approach based on a collaborative learning environment in Class XI at MAN 2 Bekasi City, examined through three main aspects: curriculum planning, organization and implementation, and curriculum supervision. This research employs a qualitative approach with a descriptive method and field research design. Data were collected through direct classroom observation, semi-structured interviews with the school principal, vice principal for curriculum affairs, teachers, and students, as well as documentation of learning materials. Data analysis followed the Miles and Huberman model, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that curriculum planning was carried out through the development of learning outcomes, learning objective sequences, and teaching modules integrating the principles of meaningful learning, mindful learning, and joyful learning. Organization and implementation involved coordination among the school principal, curriculum vice principal, and teachers in creating active, contextual, and collaborative learning through group discussions and collaborative projects. Supervision was conducted through academic supervision, monitoring, reflection, and continuous evaluation. This study concludes that the integration of a deep learning approach based on a collaborative learning environment in Merdeka Curriculum management effectively enhances students' active engagement, fosters critical and reflective thinking skills, and creates meaningful, character-based learning aligned with the Profil Pelajar Pancasila. ABSTRAK Implementasi Kurikulum Merdeka di madrasah menuntut pengelolaan yang sistematis dan inovatif, namun dalam praktiknya masih terdapat kesenjangan antara kebijakan ideal dengan pelaksanaan di lapangan, terutama dalam hal kesiapan guru menerapkan pembelajaran mendalam dan belum optimalnya lingkungan belajar kolaboratif. Penelitian ini berfokus pada manajemen Kurikulum Merdeka melalui pendekatan deep learning berbasis lingkungan belajar kolaboratif pada kelas XI di MAN 2 Kota Bekasi, yang dikaji melalui tiga aspek utama, yaitu perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaan, serta pengawasan kurikulum. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan desain penelitian lapangan (field research). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung di kelas, wawancara semi terstruktur dengan kepala madrasah, wakil kepala bidang kurikulum, guru, dan peserta didik, serta dokumentasi perangkat pembelajaran. Analisis data mengacu pada model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan kurikulum dilakukan melalui penyusunan capaian pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, dan modul ajar yang mengintegrasikan prinsip meaningful learning, mindful learning, dan joyful learning. Pengorganisasian dan pelaksanaan melibatkan koordinasi antara kepala madrasah, wakil kepala kurikulum, dan guru dalam menciptakan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan kolaboratif melalui diskusi kelompok serta proyek bersama. Pengawasan dilakukan melalui supervisi akademik, monitoring, refleksi, dan evaluasi berkelanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi pendekatan deep learning berbasis lingkungan belajar kolaboratif dalam manajemen Kurikulum Merdeka mampu meningkatkan keterlibatan aktif peserta didik, mendorong kemampuan berpikir kritis dan reflektif, serta menciptakan pembelajaran yang bermakna dan berkarakter sesuai Profil Pelajar Pancasila.    
MANAJEMEN BUDAYA SEKOLAH DALAM PENGUATAN TATA KELOLA PENDIDIKAN PADA RPOGRAM KEAHLIAN TEKNIK MEKANIK INDUSTRI DI SMK CIBITUNG 1 Nurrulaji Julianto; Acep Nurlaeli; Wahidin Wahidin
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i4.15903

Abstract

The demand for quality graduates from Vocational High Schools (SMK) faces substantial challenges, notably institutional governance gaps and the weak integration of industrial values. This disparity reveals that vocational education governance has not been fully anchored in functionally integrated work culture cultivation. Consequently, this study aims to analyze school culture management in strengthening educational governance in the Industrial Mechanical Engineering (TMI) Expertise Program at SMK Cibitung 1 through planning, organizing, actuating, and controlling phases. A qualitative approach with a case study design was employed, gathering data through in-depth interviews, participatory observation, and documentation analysis. Data were analyzed interactively utilizing data condensation, data display, and conclusion drawing/verification. The findings demonstrate that school culture management is systematically executed through POAC functions by integrating religious values, discipline, occupational health and safety (OHS), and the 5S/5R culture. This management model reinforces vocational governance by improving stakeholder participation, coordination transparency, and institutional accountability. The study concludes that the structured internalization of industrial culture serves as a strategic managerial foundation for achieving high-quality vocational education governance. Practical implications highlight the indispensability of formal industrial partnerships and exemplary leadership in institutionalizing a sustainable quality culture within vocational schools. ABSTRAK Tuntutan kualitas lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menghadapi tantangan serius berupa kesenjangan tata kelola kelembagaan dan rendahnya integrasi nilai-nilai kerja industri. Kesenjangan ini memperlihatkan bahwa tata kelola pendidikan vokasi belum sepenuhnya berlandaskan pada pembudayaan etos kerja yang terintegrasi secara fungsional. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen budaya sekolah dalam penguatan tata kelola pendidikan pada Program Keahlian Teknik Mekanik Industri (TMI) di SMK Cibitung 1 melalui tahapan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta analisis dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif dengan model kondensasi data, penyajian data, dan verifikasi simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen budaya sekolah dilaksanakan secara sistematis melalui fungsi planning, organizing, actuating, dan controlling yang mengintegrasikan nilai religius, kedisiplinan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta budaya 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin). Manajemen budaya sekolah terbukti memperkuat tata kelola pendidikan kejuruan melalui peningkatan partisipasi pemangku kepentingan, transparansi koordinasi, dan akuntabilitas kerja. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa internalisasi budaya industri yang terstruktur merupakan modal manajerial strategis dalam mewujudkan tata kelola kejuruan yang bermutu. Implikasi praktisnya menunjukkan pentingnya kemitraan industri formal dan keteladanan pimpinan dalam melembagakan budaya mutu di lingkungan sekolah kejuruan.