Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DIGITAL SELF – PRESENTATION MELALUI FILTER INSTAGRAM DALAM PEMBENTUKAN CITRA DIRI GENERASI Z DI KOTA SINGARAJA Ketut Ardhika Dharmajaya; I Putu Mardika; I Gede Teguh Heriawan
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.12060

Abstract

ABSTRACT The intensive use of Instagram filters among Generation Z has the potential to shape digital self-images that differ from actual conditions. This study aims to analyze the practice of digital self-presentation among Generation Z in Singaraja through the use of Instagram filters as a tool for self-image construction. This research employed a descriptive qualitative approach involving nine informants selected through purposive sampling. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and analyzed using the Uses and Gratifications theory, Erving Goffman’s Dramaturgy, and Jean Baudrillard’s concept of simulacra. The findings revealed that, on average, informants used filters in 79% of their content uploads. The use of filters was intended to fulfill cognitive, affective, personal integration, social integration, and tension-release needs. From a Dramaturgical perspective, filters function as impression management tools on the front stage, enabling individuals to construct idealized self-images that differ from those presented on the back stage. Furthermore, the intensive use of filters produces simulacra that contribute to the emergence of hyperreality, where digital images become more dominant than physical reality. This study concludes that Instagram filters serve not only as aesthetic features but also as important instruments in the construction of Generation Z’s digital identity. The limitations of this study include the small number of informants and its focus solely on Generation Z in Singaraja. ABSTRAK Penggunaan filter Instagram yang semakin intensif di kalangan Generasi Z berpotensi membentuk citra diri digital yang berbeda dari kondisi nyata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik digital self-presentation Generasi Z di Kota Singaraja melalui penggunaan filter Instagram sebagai instrumen pembentukan citra diri. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan sembilan informan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teori Uses and Gratifications, Dramaturgi Erving Goffman, dan konsep simulacra Jean Baudrillard. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata informan menggunakan filter pada 79% unggahan konten mereka. Penggunaan filter dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kognitif, afektif, integrasi personal, integrasi sosial, dan pelepasan ketegangan. Dalam perspektif Dramaturgi, filter berfungsi sebagai sarana manajemen impresi pada front stage untuk membangun citra diri ideal yang berbeda dari back stage. Selain itu, penggunaan filter yang intensif menghasilkan simulacra yang mendorong terbentuknya kondisi hyperreality, ketika citra digital lebih dominan dibandingkan realitas fisik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa filter Instagram tidak hanya berfungsi sebagai fitur estetika, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam pembentukan identitas digital Generasi Z. Keterbatasan penelitian terletak pada jumlah informan yang terbatas dan cakupan penelitian yang hanya berfokus pada Kota Singaraja
ANALISIS KOMUNIKASI PERSUASIF PENDAMPING PUSAT LAYANAN USAHA TERPADU (PLUT) PADA PELAKU USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH (UMKM) DI KABUPATEN BULELENG Ni Kadek Nindi Ayu Dinda; Gusti Ayu Putu Diah Permata Sari; I Gede Teguh Heriawan
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i3.15606

Abstract

ABSTRACT The development of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in Buleleng Regency continues to face challenges in adopting business innovations, particularly digital technologies and new knowledge, highlighting the need for effective persuasive communication in the mentoring process. This study aims to analyze the persuasive communication strategies implemented by mentors at the Integrated Business Service Center (PLUT) for Cooperatives and MSMEs (KUMKM) in Buleleng Regency, identify the communication barriers encountered, and analyze their implications for MSME development. Using a descriptive narrative qualitative approach, data were collected through semi-structured interviews, observations, and documentation studies involving assisted MSME owners and PLUT mentors in Buleleng Regency. The findings indicate that persuasive communication strategies are implemented through strengthening motivation and self-efficacy, establishing equal interpersonal approaches, utilizing group dynamics, simplifying technical terminology, using contextual examples, and providing direct practical guidance. Communication barriers include the complexity of digital application use, limited frequency of face-to-face mentoring, limited time availability among MSME owners, as well as differences in age, educational background, and conventional business practices. Based on Rogers' Diffusion of Innovations Theory, the innovation adoption process can be observed through the stages of knowledge, persuasion, decision, implementation, and confirmation. The most evident outcomes include increased knowledge of business legality, improvements in management and product packaging, greater utilization of digital technology and artificial intelligence, and increased openness to business development. Therefore, persuasive communication by PLUT mentors plays an important role in encouraging the innovation adoption process and supporting the capacity building and development of MSMEs in Buleleng Regency. ABSTRAK Perkembangan UMKM di Kabupaten Buleleng masih menghadapi kendala dalam mengadopsi inovasi usaha, khususnya teknologi digital dan pengetahuan baru, sehingga diperlukan komunikasi persuasif yang efektif dalam proses pendampingan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi persuasif yang diterapkan oleh pendamping Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Kabupaten Buleleng, mengidentifikasi hambatan komunikasi yang dihadapi, serta menganalisis implikasinya terhadap perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif naratif, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan studi dokumentasi terhadap pelaku UMKM binaan serta pendamping PLUT Kabupaten Buleleng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi persuasif dilakukan melalui penguatan motivasi dan efikasi diri, pendekatan interpersonal yang setara, pemanfaatan dinamika kelompok, penyederhanaan istilah teknis, penggunaan contoh kontekstual, dan bimbingan praktik secara langsung. Hambatan komunikasi meliputi kompleksitas penggunaan aplikasi digital, keterbatasan frekuensi pendampingan tatap muka, keterbatasan waktu pelaku UMKM, serta perbedaan usia, pendidikan, dan kebiasaan bisnis konvensional. Berdasarkan Teori Difusi Inovasi Rogers, proses adopsi inovasi terlihat pada tahap knowledge, persuasion, decision, implementation, dan confirmation, dengan temuan yang paling terlihat pada peningkatan pengetahuan tentang legalitas usaha, perbaikan manajemen dan kemasan, pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan, serta meningkatnya keterbukaan terhadap pengembangan usaha. Dengan demikian, komunikasi persuasif pendamping PLUT berperan dalam mendorong proses adopsi inovasi dan mendukung peningkatan kapasitas serta perkembangan UMKM di Kabupaten Buleleng.