Fenomena free rider atau perilaku “numpang nama” dalam pembelajaran kooperatif menjadi persoalan akademik karena berkaitan dengan integritas, akuntabilitas individu, dan nilai gotong royong. Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi mahasiswa aktif terhadap perilaku free rider dalam penugasan kelompok, mengidentifikasi faktor yang dipersepsikan melatarbelakanginya, menelaah dampaknya terhadap motivasi dan relasi sosial, serta merumuskan model evaluasi rekan sejawat berbasis nilai keadilan sosial Pancasila. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif melalui survei kuesioner daring kepada 103 mahasiswa aktif yang dijangkau dengan teknik convenience sampling pada Mei 2026. Instrumen terdiri atas 9 butir pernyataan berbasis indikator social loafing, integritas akademik, dan keadilan distributif. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi, skor tertimbang, dan kategori indeks persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata indeks persepsi mahasiswa terhadap fenomena free rider mencapai 69,82% dengan predikat setuju. Dukungan tertinggi muncul pada penerapan evaluasi rekan sejawat anonim sebagai solusi penegakan kontribusi kelompok (79,13%), diikuti persepsi bahwa pembagian kerja awal yang tidak spesifik menjadi celah pelepasan tanggung jawab (78,40%). Hambatan sosiokultural berupa rasa sungkan untuk menegur atau melaporkan rekan pasif memperoleh indeks 63,83% dengan predikat ragu-ragu. Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku free rider dipersepsikan mengganggu keadilan, kepercayaan, dan kohesi kelompok. Penelitian merekomendasikan peer assessment berbasis rubrik kontribusi, bobot penilaian individu, anonimitas respon, verifikasi dosen, dan mekanisme keberatan mahasiswa.