Budidaya jamur tiram merupakan salah satu usaha pangan yang berpeluang dikembangkan karena kebutuhan masyarakat terhadap sumber protein dan pangan bernilai ekonomi terus meningkat. Permasalahan yang dihadapi Kelompok Petani dan Peternak Bina Tani di Kabupaten Cianjur adalah pemeliharaan baglog yang masih dilakukan secara konvensional sehingga perubahan temperatur dan kelembapan kumbung tidak dapat diatasi dengan baik. Penelitian terapan ini bertujuan mengevaluasi penerapan sistem kendali temperatur dan kelembapan pada budidaya jamur tiram serta keberhasilan operasional budidaya setelah teknologi diterapkan. Metode yang digunakan adalah pendekatan rekayasa terapan dan evaluasi deskriptif kuantitatif melalui penyuluhan, pembuatan kumbung, implementasi sistem kendali, pendampingan, dan pemantauan. Kumbung berukuran 6 × 3 m dilengkapi 12 rak tiga tingkat dengan kapasitas lebih dari 1.000 baglog. Sistem dirancang mempertahankan temperatur 23-28°C dan kelembapan 75-85% menggunakan kipas, pemanas, dan pompa pengabut, sedangkan pH media 5,0-6,5 diperiksa secara manual. Pemantauan dilakukan selama enam minggu terhadap 1.000 baglog. Uji respons menunjukkan kipas aktif pada temperatur 32°C dan pompa penyemprot aktif pada kelembapan 50-60%, sedangkan pada 85% pompa berhenti. Jumlah baglog yang menghasilkan meningkat dari 150 pada minggu ketiga menjadi 870 pada minggu keempat dan 998 pada minggu kelima serta keenam, atau mencapai 99,8% dari total baglog. Hasil menunjukkan bahwa sistem kendali dapat mendukung kestabilan kondisi kumbung dan keberhasilan budidaya. Namun, pengukuran produktivitas berbasis berat panen per baglog masih diperlukan untuk membuktikan peningkatan hasil secara langsung.