Suhardi Muhammad
Institut Agama Islam As-Siddiq Kie Raha Maluku Utara

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Akulturasi Budaya Lokal Dengan Budaya Islam Dalam Tradisi Oho Dina Di Kelurahan Jambula Kecamaan Pulau Ternate propinsi Maluku Utara Acculturing local culture with internal islamic culture The tradition of oho dina in jambula sub-district, ternate island Suhardi Muhammad; Astriyani Papuangan
IQRA: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol 1 No 2 (2022): IQRA: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora (eISSN: 2828-0555)
Publisher : LPPM IAI As-Siddiq Kie Raha Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suhardi Muhammad. Akulturasi Budaya Lokal Dengan Budaya Islam Dalam Tradisi Oho Dina Di Kelurahan Jambula Kecamaan Pulau Ternate. Ohodina merupakan sejenis acara yang dilakukan oleh masyarakat Maluku utara pada umumnya untuk mengirim doa kepada orang yang baru meninggal, tradisi ini telah ada dipropinsi Maluku utara dari jaman dulu hingga sekarang, ritual ohodina sangat dikultuskan oleh masyarakat Maluku utara khususnya di Kelurahan Jambula, tradisi ohodina (Makan Dina) seakan menjadi suatau kewajiban bagi keluarga yang menggal dunia, dengan kata lain orang yang meninggal tidak akan mendapatkan kesenangan dalam kubur kalau tidak dilakukan ritual ohodina oleh keluarga yang masih hidup. Penelitian ini ingin mengungkap sebuah trdisi local yang disandarkan kepada agama, dimana masyarakat kelurahan Jambula sudah menganggap ritual ini sebagai suatu kewajiban sehingga apabila ada orang meninggal yang tidak buatkan ritual ohodina, maka keluarga tersebut akan dijauhkan oleh masyarakat, hasil penelitian ini juga mengungkap sebuah fakta bahwa kebudayaan yang telah menjadi suatu kepercayaan oleh orang atau masyarakat tertentu secara turun-temurun akan sulit untuk dihilangkan. Akulturasi atau penggabungan dari budaya local dan budaya Islam telah menjadi sutatu budaya yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Kelurahan Jambula.
RITUAL KOLOLI KIE DALAM PANDANGAN RELIGIUS PADA MASYARAKAT ADAT TERNATE Suhardi Muhammad
IQRA: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol 2 No 1 (2023): IQRA: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora (eISSN: 2828-0555)
Publisher : LPPM IAI As-Siddiq Kie Raha Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ritual kololi kie merupakan salah satu ritual yang selalu dilakukan oleh Masyarakat Adat Terrnate . Kata kololi kie berasal dari bahasa asli Ternate. Kololi berarti “keliling atau mengintari” dan kie yang berarti “gunung, pulau atau Gunung”. Secara umum, kololi kie diartikan sebagai “kegiatan mengitari atau mengelilingi pulau atau gunung.” Dalam bahasa populer lain di Kota Ternate. Kololi kie juga disebut dengan kata ron gunung (ron artinya “keliling”). Fokus penelitian yaitu: 1) Bagaimana pandangan masyarakat adat kesultanan Ternate terhadap ritual Kololi Kie. 2) Bagaimana proses pelaksanaan ritual Kololi Kie. 3) Apa saja nilai-nilai budaya yang terkandung dalam ritual Kololi Kie. 4) Bagaimana Pandangan Agama tentang Ritual kololi Kie.. Metode atau pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode atau pendekatan kualitatif. Adapun hasil penelitian yaitu: Bahwa ritual Kololi Kie mengandung makna yang mendalam tentang memupuk tali kebersamaan masyarakat antara masyarakat adat di Kesultanan Ternate dan masyarakat secara umum di Kota Ternate. Mengelilingi pulau dapat disimbolkan sebagai upaya memberikan pengamanan terhadap batas teritorial dan memperkuat simpul-simpul kekuatan bangsa, untuk mencegah berbagai ancaman dari luar. Ritual Kololi Kie sama maknanya dengan membelajarkan masyarakat untuk mempertahankan budaya dan menjaga keutuhan bangsa dari gempuran dan tantangan budaya global. Keempat, pada ritual tersebut, beberapa kampung dijadikan sebagai tempat persinggahan untuk berziara di makam-makam sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur serta menjalankan sunnah Nabi tentang Jiarah Kubur.
Ritual Taji Besi Dalam Peraikan Moral Masyarakat Pulau Maitara Kecamatan Tidore Utara Suhardi Muhammad; Asdi Latukao
IQRA: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol 2 No 2 (2023): IQRA: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora (eISSN: 2828-0555)
Publisher : LPPM IAI As-Siddiq Kie Raha Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/iqra.v2i2.27

Abstract

Tradisi Tajibesi di Tidore Provinsi Maluku Utara merupakan tradisi yang sangat dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai salah satu budaya yang masih sangat kental dengan ajaran Islam karena dalam pelaksanaan ritualnya semua bacaannya mengandung ayat suci Alquran dan juga ingatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses pelaksanaan ritual Tajbesi di Pulau Maitara, Kabupaten Tidore Utara, Provinsi Maluku Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa penelitian kepustakaan, penelitian kerja lapangan, teknik wawancara terstruktur. Untuk memperoleh data yang akurat dan empiris digunakan teknik penelitian dalam pengumpulan data seperti observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam penelitian yang bertajuk Tradisi Tajibesi di Pulau Mitara Kota Tidore Provinsi Maluku Utara ini dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ditemukan beberapa pembahasan di lapangan di lokasi penelitian yaitu, ilmu tarekat dalam ritual Tajibesi, zikir dalam ritual Tajibesi, peserta ritual Tajibesi. Permainan ritual tajibesi, perlengkapan atau perlengkapan ritual tajibesi dan tata cara ritual tajibesi.
Analisis Peran Budaya Lokal Dalam Tradisi Ritual Baca Malang Terhadap Sikap Keberagamaan Masyarakat Desa Tolofuo Kecamatan Loloda Kabupaten Halmahera Barat suhardi muhammad
IQRA: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol 3 No 1 (2024): IQRA: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora (eISSN: 2828-0555)
Publisher : LPPM IAI As-Siddiq Kie Raha Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/iqra.v3i1.35

Abstract

Suhardi Muhammad. Analisis Peran Budaya Lokal Dalam Tradisi Ritual Baca Malang Terhadap Sikap Keberagamaan Masyarakat Desa Tolofuo Kecamatan Loloda Kabupaten Halmahera Barat. Baca Malang merupakan salah satu ritual yang selalu dilakukan oleh Masyarakat Desa Tolofuo . Kata Baca Malang berasal dari bahasa asli Ternate. Baca berarti “Membaca ” dan Malang yang berarti “Malam ,”. Secara umum, Baca Malang diartikan sebagai “kegiatan baca doa yang utamakan pada malam jumat dan jumat pagi.” Dalam bahasa populer lain di Desa Tolofuo. Baca Malangjuga disebut dengan kata doa malang. Fokus penelitian yaitu: 1) Bagaimana pandangan masyarakat Desa Tolofuo terhadap tahapan ritual baca malang. 2) Bagaimana sikap keberagamaan Masyarakat Desa Tolofuo dalam tradisi ritual baca malang. Metode atau pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode atau pendekatan kualitatif. Adapun hasil penelitian yaitu: Bahwa ritual Baca Malang mengandung makna yang mendalam tentang menjaga tradisi leluhur yang diwariskan secara turun temurun hingga sekarang, sekaligus pengaruh ritual baca malang terhadap sikap keberagamaan pada generasi muda Desa Tolofuo. Dengan salah satu semboyan yaitu ritual hanyalah sarana tapi tujuannya adalah erdoa kepada Allah SWT ,
DINAMIKA INTERAKSI BUDAYA LOKAL DAN NILAI KEISLAMAN DALAM TRADISI SISIDE PUASA DI DESA TOLOFUO, HALMAHERA BARAT suhardi Muhammad; Astriyani A Papuangan
IQRA: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol 4 No 2 (2025): IQRA: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora (eISSN: 2828-0555)
Publisher : LPPM IAI As-Siddiq Kie Raha Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika interaksi antara budaya lokal dan nilai-nilai keislaman dalam tradisi Siside Puasa di Desa Tolofuo, Halmahera Barat. Kajian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tokoh agama, tokoh adat, serta masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Siside Puasa merupakan praktik budaya-religius yang merepresentasikan proses integrasi simbolik antara kearifan lokal dan prinsip spiritual Islam, seperti penyucian diri, solidaritas sosial, serta penguatan ukhuwah. Tradisi ini juga berfungsi sebagai medium kohesi sosial dan pembentuk identitas kolektif masyarakat. Di tengah arus modernitas, pendidikan keagamaan formal, dan wacana purifikasi ajaran, keberlangsungan tradisi dipertahankan melalui negosiasi makna yang adaptif tanpa meninggalkan nilai normatif Islam. Temuan ini menegaskan bahwa hubungan antara agama dan budaya bersifat dialogis serta kontekstual, sekaligus memperkaya khazanah studi Islam lokal di Indonesia. Oleh karena itu, pelestarian tradisi yang selaras dengan nilai etis-keislaman memiliki signifikansi dalam penguatan moderasi beragama dan keberlanjutan kearifan budaya masyarakat Muslim lokal.