Sebagai produsen jeruk terbesar keenam di dunia, dengan pomelo sebagai kontributor signifikan, Indonesia menghadapi inefisiensi rantai pasok yang kritis, termasuk kehilangan hasil panen yang melebihi 40% karena kerentanan pasca panen dan distribusi yang terfragmentasi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis konfigurasi dan mengevaluasi kinerja operasional rantai pasok pomelo di sentra produksi utamanya di Kecamatan Ma'rang, Sulawesi Selatan. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan dari 30 petani (sampel acak sederhana) dan pelaku pemasaran (sampel bola salju) dan dianalisis menggunakan kerangka kerja Jaringan Rantai Pasok Pangan (FSCN) untuk memetakan aliran produk, keuangan, dan informasi, dan metrik model Referensi Operasi Rantai Pasok (SCOR) untuk keandalan, responsivitas, fleksibilitas, dan manajemen aset. Hasilnya mengungkapkan empat aliran distribusi dengan ketergantungan tinggi pada pasar Jawa (65%). Analisis SCOR menunjukkan sebuah paradoks: meskipun efisiensi operasional secara keseluruhan kuat, keandalan dalam memenuhi permintaan terkendala (53% indikator pada tingkat paritas) oleh serangan hama penggerek batang, sementara kinerja distribusi antarpulau berada di bawah paritas (waktu tunggu 10 hari, siklus pemenuhan 11 hari) akibat kompleksitas logistik. Secara teoritis, temuan ini memvalidasi kerangka kerja FSCN-SCOR terintegrasi untuk mendiagnosis rantai pasok agri-pangan di negara berkembang. Secara praktis, studi ini menyiratkan perlunya intervensi yang terarah, khususnya penguatan program pengendalian hama terpadu (PHT) dan investasi dalam konsolidasi logistik untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing jangka panjang industri.