Novita Dwi Maharani Sabban
Program Studi Tehnik Informatika, Universitas Handayani Makassar, Sulawesi Selatan Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Math Anxiety dan Self-Efficacy terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Mahasiswa dalam Konteks Problem-Based Learning Novita Dwi Maharani Sabban; Respaty Namruddin
JIMAT: Jurnal Ilmiah Matematika Vol 7 No 2 (2026): April-Juni 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63976/jimat.v7i2.1472

Abstract

Kemampuan berpikir kritis matematis merupakan kompetensi penting yang perlu dikembangkan pada mahasiswa pendidikan matematika karena berkaitan dengan kemampuan menafsirkan masalah, menganalisis informasi, mengevaluasi strategi, dan menyusun argumentasi matematis. Selain penguasaan konsep, kemampuan tersebut juga berkaitan dengan faktor afektif, terutama math anxiety dan self-efficacy. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi math anxiety dan self-efficacy terhadap kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa dalam konteks pembelajaran Problem-Based Learning (PBL). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex post facto. Sampel terdiri atas 120 mahasiswa semester IV Program Studi Pendidikan Matematika yang telah mengikuti pembelajaran berbasis masalah selama minimal satu semester dan dipilih melalui proportional random sampling. Instrumen penelitian meliputi tes kemampuan berpikir kritis matematis, skala math anxiety yang diadaptasi dari Mathematics Anxiety Rating Scale, dan skala self-efficacy matematis. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji asumsi regresi, korelasi Pearson, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa math anxiety menjadi prediktor negatif dan signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis matematis, sedangkan self-efficacy menjadi prediktor positif dan signifikan. Secara simultan, kedua variabel menjelaskan 61,3% variasi kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan kemampuan berpikir kritis matematis dalam PBL perlu disertai strategi pedagogis yang menurunkan kecemasan matematika dan memperkuat keyakinan diri mahasiswa. Keterbatasan penelitian terletak pada penggunaan desain ex post facto, sampel yang terbatas pada mahasiswa pendidikan matematika, serta penggunaan instrumen self-report untuk variabel afektif. Penelitian selanjutnya direkomendasikan menggunakan desain eksperimen atau mixed methods, memperluas karakteristik sampel, dan menguji variabel mediasi atau moderasi seperti motivasi belajar, kemampuan awal matematika, self-regulated learning, dan kualitas implementasi PBL.
Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Ditinjau dari Gaya Kognitif dalam Menyelesaikan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Novita Dwi Maharani Sabban; Respaty Namruddin; Syuryadi Syuryadi; Suryadi Ishak
JIMAT: Jurnal Ilmiah Matematika Vol 7 No 1 (2026): Januari-Maret 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63976/jimat.v7i1.1290

Abstract

Kemampuan berpikir kritis merupakan keterampilan esensial yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematika di perguruan tinggi, khususnya pada materi sistem persamaan linear dua variabel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan berpikir kritis mahasiswa ditinjau dari gaya kognitif dalam menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek mahasiswa program studi Pendidikan Matematika yang dikelompokkan ke dalam gaya kognitif field independent dan field dependent. Pengumpulan data dilakukan melalui tes pemecahan masalah, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan gaya kognitif field independent memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih baik pada aspek analisis, inferensi, dan evaluasi dibandingkan mahasiswa dengan gaya kognitif field dependent.