Noyumala Noyumala
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peran Self-Efficacy Dalam Pelaksanaan Komunikasi SBAR Perawat Di RSUD Labuang Baji Makassar Noyumala Noyumala; Nurnainah Nurnainah; Kordianus Rana
Jurnal Berita Kesehatan Vol 19 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v19i1.375

Abstract

Latar Belakang: Kegagalan komunikasi klinis masih menjadi salah satu penyebab utama insiden keselamatan pasien. Komunikasi SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) merupakan metode komunikasi terstruktur yang mendukung kejelasan handover dan keselamatan pasien, namun pelaksanaannya dapat dipengaruhi oleh self-efficacy perawat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan self-efficacy dengan pelaksanaan komunikasi SBAR pada perawat di RSUD Labuang Baji Makassar. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik cross-sectional ini dilaksanakan pada Desember 2025–Februari 2026. Sampel penelitian berjumlah 135 perawat yang dipilih dengan proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner karakteristik responden, self-efficacy, dan pelaksanaan komunikasi SBAR. Nilai validitas instrumen berkisar 0,377–0,999 dan reliabilitas Cronbach’s alpha 0,607–0,998. Hasil: Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (88,9%), berusia 31–40 tahun (71,9%), berpendidikan Ners (49,6%), bekerja di ruang rawat inap (63,0%), dan memiliki masa kerja 6–10 tahun (54,1%). Mayoritas responden memiliki self-efficacy sedang (41,5%), sedangkan pelaksanaan komunikasi SBAR didominasi kategori kurang (42,2%). Uji Spearman Rho menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara self-efficacy dan pelaksanaan komunikasi SBAR (p = 0,001) dengan korelasi positif lemah (r = 0,296). Kesimpulan: Semakin tinggi self-efficacy, semakin baik pelaksanaan komunikasi SBAR, meskipun hubungannya lemah. Diperlukan pelatihan SBAR, supervisi, standardisasi handover, dan dukungan sistem untuk meningkatkan komunikasi klinis dan keselamatan pasien.