Kota Tomohon di Sulawesi Utara memiliki kerawanan bencana alam yang tinggi, terutama akibat aktivitas Gunung Lokon, di mana kondisi geografis dan topografi unik wilayah ini meningkatkan risiko, sehingga mitigasi bencana dan kesiapsiagaan darurat menjadi krusial. Pengembangan jalur evakuasi yang efektif dan pemahaman risiko di sekolah rawan bencana sangat penting untuk menjamin keselamatan masyarakat, oleh karena itu, pelatihan dan pendampingan kesiapsiagaan bencana terpadu diperlukan di lingkungan pendidikan Tomohon. Pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman mitigasi bencana pada 31 siswa ($n=31$) SMP Katolik Bunda Hati Kudus Tomohon yang tinggal di sekitar area rawan bencana Gunung Lokon. Kegiatan dilaksanakan pada Maret hingga April 2023 dan melibatkan analisis jalur evakuasi menggunakan pendekatan Space Syntax, serta pelatihan mitigasi yang terdiri dari sosialisasi dan simulasi evakuasi. Data dikumpulkan melalui pre-test dan post-test dengan 20 butir kuesioner pada domain mitigasi, jalur evakuasi, dan simulasi dengan skala nilai 0–100. Hasil post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa, dari nilai rata-rata 54,19 pada pre-test menjadi 75 pada post-test, yang diukur menggunakan analisis N-gain (Meltzer 2002), menghasilkan N-gain rata-rata sebesar 49% (kategori sedang). Hasil diskusi dan evaluasi mengungkapkan perlunya peningkatan aspek teknis, seperti penambahan titik kumpul dan penanda evakuasi, namun secara keseluruhan kegiatan pelatihan evakuasi ini telah berhasil meningkatkan kesiapan siswa dalam menghadapi bencana dan memberikan manfaat jangka panjang dalam upaya mitigasi bencana di lingkungan sekolah.