Permasalahan pengelolaan sampah organik dari usaha rumah makan di Desa Bengle, Kabupaten Karawang, masih belum tertangani secara berkelanjutan akibat rendahnya praktik pemilahan dari sumber dan terbatasnya kolaborasi dengan pengelola sampah lokal. Kondisi ini menyebabkan sampah sisa makanan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan serta belum dimanfaatkan secara optimal. Di sisi lain, potensi pengolahan melalui budidaya maggot sebagai agen biokonversi belum terintegrasi dalam sistem pengelolaan sampah di tingkat desa. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berbasis kolaborasi untuk mengoptimalkan pemanfaatan sampah organik menjadi produk bernilai. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengembangkan model pengelolaan sampah organik berbasis kolaborasi antara rumah makan, bank sampah, dan pembudidaya maggot guna memperkuat keberlanjutan lingkungan di tingkat desa. Metode pelaksanaan meliputi pemetaan masalah, pendampingan teknis pemilahan dan penyaluran sampah organik, integrasi pemanfaatan maggot, serta penerapan eco-label bagi rumah makan yang berpartisipasi. Kegiatan juga didukung dengan penyediaan alat tepat guna berupa mesin pencacah dan mesin penyangrai otomatis. Pelaksanaan dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, demonstrasi lapangan, serta monitoring bersama mitra. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kapasitas produksi maggot kering dari rata-rata 20–30 kg/hari menjadi 60–80 kg/hari setelah penggunaan alat dan pendampingan teknis. Selain itu, terjadi peningkatan partisipasi mitra, di mana lebih dari 70% rumah makan yang terlibat mulai melakukan pemilahan sampah organik secara rutin. Produk maggot kering yang telah dilabeli juga mengalami peningkatan daya jual dan mendapatkan respon positif dari pasar lokal. Program ini turut memperkuat kolaborasi antara bank sampah, pembudidaya maggot, dan pelaku usaha, sehingga menciptakan sistem pengelolaan sampah organik yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan kolaboratif berbasis masyarakat mampu meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah organik sekaligus menghasilkan nilai tambah ekonomi dan lingkungan di tingkat desa.