Pulau Panambungan di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan memiliki potensi wisata bahari yang cukup besar, terutama berupa pantai berpasir putih dan aktivitas wisata laut seperti snorkeling. Namun, pengembangan kawasan ini masih menghadapi berbagai permasalahan, antara lain keterbatasan aksesibilitas, penyediaan air bersih yang belum optimal, pengelolaan sampah yang belum terpadu, serta belum adanya pembagian zona kawasan yang jelas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi dan potensi kawasan wisata Pulau Panambungan, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi penataan kawasan, serta merumuskan arahan penataan kawasan wisata yang berkelanjutan berbasis prinsip ekowisata. Penelitian ini merupakan penelitian perencanaan dengan pendekatan mixed methods. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, kuesioner, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan Importance-Performance Analysis (IPA), analisis spasial, serta analisis stakeholder. Hasil seluruh analisis tersebut kemudian diintegrasikan untuk merumuskan arahan penataan kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Panambungan telah memiliki fasilitas dasar pendukung wisata, seperti dermaga, penginapan, musala, dapur, fasilitas sanitasi, energi listrik dari genset, dan air bersih dari mesin penyulingan air laut. Meskipun demikian, pengelolaan sampah dan penyediaan air bersih masih menjadi faktor utama yang perlu diprioritaskan. Analisis spasial menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang kawasan masih bersifat campuran dan belum tertata secara optimal, sehingga diperlukan pembagian zonasi yang lebih terstruktur. Oleh karena itu, arahan penataan kawasan difokuskan pada peningkatan sistem pengelolaan sampah, optimalisasi penyediaan air bersih, penataan zonasi kawasan, peningkatan kualitas infrastruktur pendukung, serta penguatan koordinasi antar-stakeholder. Penataan ini diharapkan dapat mendukung pengembangan kawasan wisata Pulau Panambungan yang berkelanjutan dan berbasis ekowisata. Panambungan Island in Pangkajene and Islands Regency has considerable marine tourism potential, particularly in the form of white sandy beaches and marine recreational activities such as snorkeling. However, the development of this area still faces several problems, including limited accessibility, a suboptimal clean water supply, inadequate integrated waste management, and the absence of clear zoning. This study aims to analyze the condition and potential of the Panambungan Island tourism area, identify the factors influencing its spatial arrangement, and formulate sustainable tourism area planning directives based on ecotourism principles. This study employed a mixed-methods planning research approach. Data were collected through field observations, semi-structured interviews, questionnaires, and documentation. Data analysis was conducted both qualitatively and quantitatively using Importance-Performance Analysis (IPA), spatial analysis, and stakeholder analysis. The results of these analyses were then integrated to formulate area planning directives. The results show that Panambungan Island already has basic tourism-supporting facilities, such as a pier, accommodation, a prayer room, kitchen facilities, sanitation facilities, electricity supplied by generators, and clean water produced through seawater desalination. Nevertheless, waste management and clean water provision remain the main priorities for improvement. Spatial analysis indicates that land use in the tourism area remains mixed and not yet optimally organized, necessitating a more structured zoning arrangement. Therefore, the proposed planning directives focus on improving waste management systems, optimizing clean water supply, organizing spatial zoning, enhancing supporting infrastructure quality, and strengthening coordination among stakeholders. These measures are expected to support the sustainable and ecotourism-based development of the Panambungan Island tourism area.