Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak implementasi rencana tata ruang terhadap perubahan struktur ruang berbasis Production–Living–Ecological Space (PLES), nilai jasa ekosistem (Ecosystem Service Value/ESV), dan cadangan karbon, serta merumuskan strategi optimisasi pemanfaatan ruang di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Matabe. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif spasial berbasis sistem sosial-ekologis melalui analisis evaluatif-diagnostik dan analisis trade-off. Data diperoleh dari peta penggunaan lahan dan dokumen perencanaan, kemudian diklasifikasikan ke dalam PLES. Nilai jasa ekosistem dihitung menggunakan pendekatan Costanza, sementara cadangan karbon diestimasi berdasarkan koefisien IPCC. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan ruang produksi sebesar 107% dan penurunan ruang ekologis sebesar 58%, yang berdampak pada penurunan ESV sebesar 58% dan cadangan karbon sebesar 50%. Perubahan ini menunjukkan terjadinya ketidakseimbangan struktural serta konflik antara fungsi ekonomi dan ekologis yang berada pada kondisi non-Pareto optimal. Penelitian ini merekomendasikan strategi optimisasi berbasis zonasi yang mencakup zona lindung, zona transisi, dan zona produksi sebagai pendekatan untuk menjaga keseimbangan sistem sosial–ekologis. Temuan ini memberikan kontribusi dalam pengembangan perencanaan tata ruang berbasis nilai ekologis serta menjadi dasar pengambilan kebijakan pembangunan kawasan yang berkelanjutan. This study aims to evaluate the impact of spatial planning implementation on land-use structure based on the Production–Living–Ecological Space (PLES) framework, ecosystem service value (ESV), and carbon storage, and to formulate an optimized land-use strategy in the Matabe Special Economic Zone (SEZ). A spatial quantitative approach within a social–ecological system framework was applied using evaluative-diagnostic and trade-off analysis. Land-use data were derived from planning documents and classified into PLES categories. Ecosystem service values were estimated using the Costanza approach, and carbon storage was calculated using IPCC coefficients. The results reveal a 107% increase in production space and a 58% decrease in ecological space, leading to a 58% decline in ESV and a 50% reduction in carbon storage. These findings indicate a structural imbalance and a strong trade-off between economic expansion and ecological sustainability, reflecting a non-Pareto optimal condition. This study proposes a zoning-based spatial optimization strategy that includes conservation, transition, and production zones to balance socio-ecological systems. The findings contribute to spatial planning by integrating ecological valuation into land-use decision-making and provide an evidence-based framework for sustainable regional development.