Obet Nego
Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer, Tanjung Enim, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Dari Yerusalem ke Ruang Siber Debby Christ Mondolu; Obet Nego
Te Deum (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan) Vol 15 No 2 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAPPI Ciranjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51828/td.v15i2.516

Abstract

This article re-examines the theological and missiological meaning of the phrase “ends of the earth” in the Great Commission (Matthew 28:18-20; Acts 1:8) within the context of the digital age and cyberspace. Employing a qualitative-theological approach and hermeneutic-contextual analysis, it reinterprets the “ends of the earth” as an existential metaphor of global digital connectivity, where the Missio Dei continues to transcend geographical and technological boundaries. The findings reveal that cyberspace can be considered a new “mission field,” demanding strategic engagement rooted in incarnational theology, digital communication, and ethical mission practice. The study proposes cyber-missiology as a conceptual framework integrating presence, witness, and community within the digital ecosystem. It concludes that the Great Commission remains relevant and universal amidst the transformation of global communication. Thus, cyberspace is not merely a medium but a new horizon of God’s mission extending to every digital “end of the earth.”
Privilege or Mandate? Nepo Babies in Biblical Narrative and the Political Reality of Indonesia Obet Nego; Debby Christ Mondolu
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/7d7qfr90

Abstract

This article examines the phenomenon of nepo babies, a term denoting the children of prominent figures who attain power through family connections, in relation to biblical narrative and Indonesia's political realities. Employing a critical qualitative approach combining biblical hermeneutics with critical discourse analysis, the study finds that political dynasties in Indonesia expose a persistent tension between privilege and mandate. Though often defended as legitimate within existing legal and social frameworks, such dynasties frequently erode democracy and deepen social inequality. A parallel pattern emerges in Scripture: hereditary succession alone guarantees neither competence nor faithfulness, as the failures of Eli's sons and Solomon's decline make clear, whereas Joseph and David show that legitimate leadership rests on divine calling and integrity rather than lineage. Drawing on Walter Brueggemann's prophetic imagination, the article argues that the church is called to function as a prophetic community that criticizes unjust power structures and envisions more just political alternatives. It concludes that privilege should be understood as a divine mandate rather than an inherited entitlement, with implications for ecclesial public engagement and a more meritocratic Indonesian politics. AbstrakArtikel ini mengkaji fenomena nepo babies, istilah yang merujuk pada anak dari tokoh berpengaruh yang memperoleh kekuasaan melalui koneksi keluarga, dalam kaitannya dengan narasi Alkitab dan realitas politik Indonesia. Dengan pendekatan kualitatif kritis yang menggabungkan hermeneutika biblika dan analisis wacana kritis, penelitian ini menemukan bahwa dinasti politik di Indonesia memperlihatkan ketegangan yang terus-menerus antara privilese dan mandat. Meski sering dibela sebagai sah dalam kerangka hukum dan sosial yang berlaku, dinasti semacam ini kerap melemahkan demokrasi dan memperlebar ketimpangan sosial. Pola serupa muncul dalam Kitab Suci: suksesi berdasarkan garis keturunan saja tidak menjamin kompetensi maupun kesetiaan, sebagaimana terlihat dari kegagalan anak-anak Eli dan kejatuhan Salomo, sementara Yusuf dan Daud menunjukkan bahwa kepemimpinan yang sah berakar pada panggilan ilahi dan integritas, bukan pada garis keturunan. Dengan mengacu pada imajinasi profetis Walter Brueggemann, artikel ini menegaskan bahwa gereja dipanggil menjadi komunitas profetis yang mengkritik struktur kekuasaan yang tidak adil sekaligus membayangkan tatanan politik alternatif yang lebih adil. Artikel ini menyimpulkan bahwa privilese seharusnya dipahami sebagai mandat ilahi, bukan hak warisan, dengan implikasi bagi keterlibatan publik gereja dan politik Indonesia yang lebih meritokratis.
Komunikasi Digital yang Beretika di Tengah Polarisasi Politik di Indonesia: Kajian Etika Kristen Obet Nego
Jurnal Teologi Injili Vol. 5 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi ATI Anjungan Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55626/jti.v5i2.246

Abstract

Polarisasi politik di Indonesia semakin menguat seiring dengan peran media sosial sebagai ruang utama ekspresi politik dan pertukaran wacana publik. Fenomena ini memperlihatkan dominasi retorika emosional, provokatif, dan konfrontatif yang diperkuat oleh algoritma digital, sehingga mengikis kepercayaan publik, menghambat dialog konstruktif, dan melemahkan kohesi sosial. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip-prinsip etika Kristen kasih, kejujuran, keadilan, dan integritas dalam komunikasi digital di tengah polarisasi politik Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan, melalui analisis tematik yang meliputi identifikasi konsep polarisasi politik digital, interpretasi teologis atas prinsip etika Kristen, dan sintesis kritis antara kajian komunikasi politik, algoritma media sosial, serta teologi praktis. Hasil kajian menunjukkan bahwa minimnya penerapan etika Kristen dalam wacana digital mengakibatkan krisis kesaksian iman dan memperparah retorika konflik. Artikel ini menegaskan urgensi panduan etis berbasis nilai Kristiani yang tidak hanya membatasi ujaran kebencian dan hoaks, tetapi juga membentuk habitus kebajikan komunikatif seperti kejujuran, kerendahan hati, dan belas kasih. Kontribusi penelitian ini terletak pada upaya membangun kerangka etika komunikasi digital yang kontekstual bagi komunitas Kristen Indonesia dalam menghadapi tantangan polarisasi politik.