Sri Dwi Fajarini
Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Komunikasi Interpersonal Petugas Pemasyarakatan dalam Pembinaan Perilaku Warga Binaan Perempuan di Bengkulu Ary Saputra; Sri Dwi Fajarini
Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer) Vol 7 No 1 (2026): Jurnal Madia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/madia.v7i1.10740

Abstract

This study aims to analyse interpersonal communication in the behavioural guidance of inmates at the Class IIB Women’s Correctional Institution in Bengkulu. The study employs a qualitative method with a descriptive approach. There were six informants, comprising the Head of the Correctional Institution, the Head of the Registration and Rehabilitation Sub-Section, the Head of the Security and Order Administration Section, and three inmates. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and were subsequently analysed using the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that interpersonal communication between correctional officers and inmates plays a crucial role in the behavioural rehabilitation process. The effectiveness of communication is demonstrated by the increased openness of inmates in disclosing their personal backgrounds and issues, the emergence of empathetic relationships between officers and inmates, the provision of support through personality development and self-reliance programmes, the development of positive attitudes among inmates towards rehabilitation activities, and the creation of communicative equality that enables inmates to express their opinions and receive feedback openly. The research findings also indicate that a communication approach which positions staff as mentors and listeners is capable of encouraging behavioural change among inmates towards a more adaptive, cooperative, and participatory approach in following the programme rehabilitation. This study contributes to the development of research on interpersonal communication within the context of the prison system by demonstrating that the dimensions of openness, empathy, supportive attitudes, positive attitudes, and equality as proposed by Joseph A. Devito are key factors in the successful rehabilitation of inmates.Keywords: interpersonal communication, behavioural rehabilitation, female prisoners, women’s correctional institutions.
Tradisi Bezikir sebagai Media Komunikasi Budaya Masyarakat Desa Pulau Panggung Kabupaten Kaur Feby Lajua Jaya; Sri Dwi Fajarini
Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer) Vol 7 No 1 (2026): Jurnal Madia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/madia.v7i1.10752

Abstract

This study aims to analyze the Bezikir tradition as a medium of cultural communication in the community of Pulau Panggung Village, Luas Subdistrict, Kaur Regency. The study employs a descriptive qualitative approach, involving five informants consisting of the traditional leader, members of the kendaur (Bezikir practitioners), community leaders, and community members who understand the practice of the Bezikir tradition. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis was conducted using the Miles, Huberman, and Saldaña model, which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions, while data validity was tested through source triangulation and member checking. The research findings indicate that the Bezikir tradition functions not only as a series of wedding customs but also as a medium of cultural communication that plays a role in transmitting religious values, social solidarity, respect for ancestors, and the cultural identity of the Kaur community. The communication process occurs through interactions between traditional practitioners, the bride and groom, families, and the community members present at the ritual. Cultural symbols such as the gendang, the recitation of the Maulid Saiful Anam, ritual movements, and collective community participation are interpreted as representations of gratitude, togetherness, and hope for a harmonious married life. The research findings also indicate that the Bezikir tradition serves as a means of transmitting cultural values across generations while strengthening social cohesion within the community.This study contributes to the development of cultural communication studies by demonstrating that local traditions can be understood as spaces for the exchange of symbols and the construction of cultural meaning. Practically, the research findings have implications for efforts to preserve the Bezikir tradition through strengthening the role of customary institutions, local cultural education, and the involvement of the younger generation in ensuring the sustainability of the region’s cultural heritage. Keywords: cultural communication, Bezikir tradition, ritual communication, cultural symbols, local culture.
RUANG EKSPRESI DIRI DI ERA DIGITAL (ANALISIS PERAN TIKTOK DI KALANGAN MAHASISWA FISIP UMB) Hajri Wahyuni; Sri Dwi Fajarini
Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer) Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Humas dan Media Kontemporer (MADIA)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/madia.v6i1.8537

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran platform TikTok dalam membentuk pola perilaku, gaya hidup, dan ekspresi diri mahasiswa FISIP Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) angkatan 2021 di era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok telah menjadi bagian integral dari kehidupan mahasiswa, tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruang ekspresi diri, penyampaian ide, dan interaksi sosial. Tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap TikTok berdampak pada terganggunya waktu istirahat dan menurunnya fokus akademik akibat perilaku scrolling yang tidak terkendali. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) juga teridentifikasi sebagai pendorong utama penggunaan aplikasi ini, memengaruhi cara mahasiswa mempresentasikan diri dan membentuk identitas digital mereka. Selain itu, TikTok turut mendorong perubahan gaya hidup mahasiswa, baik dalam aspek positif seperti adopsi pola hidup sehat dan kreativitas, maupun negatif seperti distraksi dan penurunan produktivitas. Temuan ini menegaskan bahwa TikTok merupakan ruang ekspresi yang dinamis dan multidimensi, yang memerlukan kesadaran digital tinggi dari penggunanya. Oleh karena itu, penting bagi institusi pendidikan untuk mendorong pengembangan literasi digital yang bersifat kritis agar mahasiswa mampu menjadi pengguna media sosial yang bijak, kreatif, dan bertanggung jawab.   Kata Kunci : Ekspresi Diri,Era Digital,Tiktok            
PENGEMBANGAN TOKOH CHO SANG-GU DALAM SERIAL MOVE TO HEAVEN Berlian Aprilia Septiana; Sri Dwi Fajarini
Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer) Vol 6 No 2 (2025): Jurnal Humas dan Media Kontemporer (MADIA)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/madia.v6i1.8541

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan karakter Cho Sang-gu dalam serial Move to Heaven menggunakan pendekatansemiotika Roland Barthes yang mencakup tiga lapisan makna: denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasikarakter Sang-gu mencerminkan proses penyembuhan emosional dan redefinisi identitas maskulin yang kaku. Pada level denotatif, perubahantampak melalui tindakan nyata Sang-gu yang semula tertutup dan defensif menjadi lebih terbuka dan suportif. Pada level konotatif, simbol-simbol seperti rumah, dapur, meja makan, serta pencahayaandan warna pakaian menjadi penanda kehangatan, keterbukaan, dan keterhubungan emosional. Pada level mitos, serial ini menantang narasimaskulinitas patriarkal yang membatasi ekspresi emosional laki-laki, dan memperkenalkan model maskulinitas baru yang empatik dan inklusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan karakterSang-gu tidak hanya didorong oleh alur cerita, tetapi juga oleh kekuatansimbolik visual dalam struktur naratif serial. Kehadirannya sebagaifigur ayah, penjaga, dan pendengar membuka ruang bagi pemaknaanulang atas peran laki-laki dalam ranah domestik dan relasi emosional. Dengan demikian, serial ini menjadi cermin dari nilai-nilaikemanusiaan, pentingnya relasi antarindividu, serta keberanian untukmengalami perubahan dan pertumbuhan emosional. Kata kunci : Pengembangan,Karakter tokoh,Serial
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA SEBAGAI STRATEGI PELESTARIAN ADAT BEKAGOK’AN SUKU BASEMAH DI PADANG BINDU Lucky Razika; Sri Dwi Fajarini
Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer) Vol 6 No 2 (2025): Jurnal Humas dan Media Kontemporer (MADIA)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/madia.v6i1.8550

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasiantarbudaya dalam pelestarian adat Bekagok’an Suku Basemah di Desa Padang Bindu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelestarian adattidak hanya bergantung pada pelaksanaan seremonial, tetapi juga pada proses komunikasi lintas generasi dan lintas etnis yang berlangsungsecara dialogis dan partisipatif. Melalui pendekatan interaksionismesimbolik, ditemukan bahwa makna budaya dalam prosesi adat sepertitarian, masakan tradisional, dan simbol-simbol lainnya dibentuk dan diwariskan melalui interaksi sosial yang hidup dan bermakna. Tigadimensi utama dalam interaksionisme simbolik, yakni mind, self, dan society, menjadi dasar dalam pewarisan budaya: simbol adatmembentuk pemahaman generasi muda, membangun identitas dirisebagai bagian dari komunitas adat, serta memperkuat struktur sosialmasyarakat. Di sisi lain, media sosial muncul sebagai medium barudalam mendukung dokumentasi dan diseminasi nilai-nilai adat, meskipun memerlukan pendekatan yang kontekstual agar tidak terjadipenyederhanaan makna. Oleh karena itu, komunikasi antarbudayaterbukti menjadi strategi kunci dalam menjaga keberlanjutan adatBekagok’an, dengan menekankan kolaborasi antar generasi, pemaknaansimbolik yang reflektif, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologikomunikasi. kata kunci : komunikasi antar budaya,pelestarian,adat bekagok'an
REPRESENTASI KESETARAAN DAN HAK PEREMPUAN DALAM FILM “DUA DETIK” KARYA MENJADI MANUSIA Reski Dwi Putra; Sri Dwi Fajarini
Jurnal MADIA (Jurnal Humas dan Media Kontemporer) Vol 6 No 2 (2025): Jurnal Humas dan Media Kontemporer (MADIA)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/madia.v6i2.10087

Abstract

Transformasi digital telah menciptakan realitas baru dalam komunikasi massa, termasuk dalam cara penyampaian berita tentang isu-isu sosial terkini. Studi ini mengeksplorasi bagaimana film pendek “Dua Detik” karya Menjadi Manusia membangun diskusi tentang kesetaraan gender melalui penggambaran pengalaman perempuan dalam menghadapi tantangan di dunia digital. Dengan menerapkan metode kualitatif dan analisis semiotik seperti yang dikemukakan oleh John Fiske, studi ini menyelidiki makna yang dibangun dari tiga elemen: fakta yang dapat diverifikasi, representasi teknis, dan visualisasi. Visualisasi tokoh utama mencerminkan interaksi antara kerentanan dan kekuatan, menciptakan beragam citra perempuan dan menantang stereotip yang ada. Signifikansi penelitian ini terletak pada kontribusinya dalam memahami bagaimana media independen dapat menjadi alat yang efektif untuk mendukung kesetaraan gender. Kata Kunci: Representasi, Kesetaraan dan Hak Perempuan, Film Dua Detik