Penelitian ini mengkaji fenomena algorithmic echo chamber sebagai tantangan kewargaan digital dalam polarisasi sentimen terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) di platform Tiktok. Menggunakan desain Penelitian ini mengkaji fenomena algorithmic echo chamber sebagai tantangan kewargaan digital dalam polarisasi sentimen terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) di platform Tiktok. Menggunakan desain penelitian campuran konvergen paralel, penelitian menganalisis 60 video Tiktok (30 pro dan 30 kontra) melalui uji MANOVA dan analisis konten kualitatif multimodal. Hasil kuantitatif menunjukkan perbedaan profil keterlibatan yang signifikan secara multivariat (Pillai’s Trace = 0,280; F = 7,258; p < ,001). Konten pro memperoleh rata-rata likes lebih tinggi sebagai bentuk persetujuan afirmatif, sementara konten kontra memicu komentar dan shares yang lebih tinggi sebagai ekspresi keterlibatan aktif berbasis emosi. Secara kualitatif, kubu pro membangun narasi solidaritas ekonomi dan legitimasi moral melalui visual kelompok rentan dan format pseudo-podcast, sedangkan kubu kontra menggunakan framing kegagalan teknis untuk memobilisasi kemarahan publik. Temuan menegaskan bahwa algoritma fyp Tiktok secara efektif membentuk gelembung filter dan ruang gema yang mengisolasi pengguna ke dalam klaster ideologis terpolarisasi, sehingga wacana kebijakan publik bergeser dari deliberasi rasional menjadi pertarungan identitas emosional. Penelitian ini berimplikasi pada urgensi penguatan literasi digital, kesadaran algoritmik, dan etika berpendapat sebagai pilar kewargaan digital yang sehat. penelitian campuran konvergen paralel, penelitian menganalisis 60 video Tiktok (30 pro dan 30 kontra) melalui uji MANOVA dan analisis konten kualitatif multimodal. Hasil kuantitatif menunjukkan perbedaan profil keterlibatan yang signifikan secara multivariat (Pillai’s Trace = 0,280; F = 7,258; p < ,001). Konten pro memperoleh rata-rata likes lebih tinggi sebagai bentuk persetujuan afirmatif, sementara konten kontra memicu komentar dan shares yang lebih tinggi sebagai ekspresi keterlibatan aktif berbasis emosi. Secara kualitatif, kubu pro membangun narasi solidaritas ekonomi dan legitimasi moral melalui visual kelompok rentan dan format pseudo-podcast, sedangkan kubu kontra menggunakan framing kegagalan teknis untuk memobilisasi kemarahan publik. Temuan menegaskan bahwa algoritma fyp Tiktok secara efektif membentuk gelembung filter dan ruang gema yang mengisolasi pengguna ke dalam klaster ideologis terpolarisasi, sehingga wacana kebijakan publik bergeser dari deliberasi rasional menjadi pertarungan identitas emosional. Penelitian ini berimplikasi pada urgensi penguatan literasi digital, kesadaran algoritmik, dan etika berpendapat sebagai pilar kewargaan digital yang sehat.