Bangkit Saputra
State Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

The Dialectic of Islam Nusantara and Globalization: The Transformation of Nahdlatul Ulama’s Religious Practices Bangkit Saputra
Besari: Journal of Social and Cultural Studies Vol. 3 No. 2 (2026): Besari: Journal of Social and Cultural Studies
Publisher : PC Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71155/besari.v3i2.187

Abstract

This study examines the dialectical relationship between Islam Nusantara and globalization through Homi K. Bhabha's Hybridity Theory, focusing on the transformation of Nahdlatul Ulama’s (NU) religious practices within Indonesian modernity. Utilizing a library research methodology, the paper analyzes how traditional Islamic organizations navigate between preserving local traditions and adapting to global influences. The findings reveal that NU employs a sophisticated cultural negotiation strategy, creating a “third space” where new hybrid identities emerge. Through cultural translation, traditional Islamic values are reinterpreted for modern contexts without losing their essence. Furthermore, NU’s approach exhibits an ambivalence that simultaneously accepts and rejects various aspects of globalization. This hybridity enables the organization to maintain its traditional roots while constructively engaging with contemporary challenges, fostering innovative religious practices that blend local wisdom with global perspectives. Studi ini mengkaji hubungan dialektis antara Islam Nusantara dan globalisasi melalui Teori Hibriditas Homi K. Bhabha, dengan fokus pada transformasi praktik keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) dalam konteks modernitas Indonesia. Menggunakan metode penelitian kepustakaan, artikel ini menganalisis bagaimana organisasi Islam tradisional bernavigasi antara melestarikan tradisi lokal dan beradaptasi dengan pengaruh global. Temuan menunjukkan bahwa NU menerapkan strategi negosiasi budaya yang canggih, menciptakan "ruang ketiga" tempat identitas hibrida baru muncul. Melalui penerjemahan budaya, nilai-nilai Islam tradisional diinterpretasikan kembali untuk konteks modern tanpa kehilangan esensinya. Selain itu, pendekatan NU menunjukkan ambivalensi yang secara bersamaan menerima dan menolak berbagai aspek globalisasi. Hibriditas ini memungkinkan NU mempertahankan akar tradisinya sekaligus terlibat secara konstruktif dengan tantangan kontemporer, menghasilkan praktik keagamaan inovatif yang memadukan kearifan lokal dengan perspektif global.