Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kontribusi growth mindset dan kemandirian belajar terhadap prestasi matematika siswa pada era pasca pandemi, di mana pembelajaran hybrid telah mengubah secara signifikan pola interaksi dan tanggung jawab belajar. Pandemi COVID-19 memaksa percepatan digitalisasi pembelajaran, namun juga meninggalkan tantangan berupa learning loss dan menurunnya motivasi belajar mandiri. Mengingat prestasi matematika sangat ditentukan oleh faktor afektif dan metakognitif, identifikasi variabel prediktor menjadi krusial. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan desain regresi berganda. Subjek penelitian sebanyak 210 siswa kelas VIII dari tiga SMP negeri di Kota Yogyakarta yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen meliputi skala growth mindset (α = 0,87) yang diadaptasi dari Dweck (2006), skala kemandirian belajar (α = 0,89), serta tes prestasi matematika berbasis kompetensi minimum. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) growth mindset berkontribusi secara signifikan terhadap prestasi matematika (β = 0,42; p < 0,01); (2) kemandirian belajar berkontribusi signifikan (β = 0,38; p < 0,01); dan (3) secara simultan kedua variabel memberikan kontribusi sebesar 52,4% (R² = 0,524) terhadap prestasi matematika. Temuan ini menegaskan bahwa siswa yang meyakini kemampuan matematika dapat berkembang melalui usaha (growth mindset) serta memiliki kemandirian belajar tinggi cenderung memperoleh prestasi lebih baik di era pasca pandemi. Implikasi praktisnya adalah perlunya intervensi psikoedukatif untuk menumbuhkan growth mindset dan pelatihan kemandirian belajar secara terintegrasi dalam pembelajaran matematika, tidak hanya fokus pada remediasi kognitif. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk menguji efektivitas program intervensi berbasis mindset.