Abstrak. This study aims to analyze the role of Public Relations (PR) in disseminating activity information at Community L. Using a descriptive qualitative approach with a case study design, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation from three purposively selected participants: the community chairman, the PR officer, and an active member. Data analysis applied the Miles and Huberman interactive model, validated through source and technique triangulation. Results indicate that PR in Community L serves as a communication facilitator utilizing WhatsApp and Instagram as primary platforms for internal and external information dissemination. The PR strategy encompasses structured stages including content planning, message packaging using visual content and AI-based tools, media selection, implementation, and evaluation. However, communication flow remains predominantly one-directional, with challenges including inconsistent publication schedules, last-minute announcements, and low member interaction. Improvement is recommended through structured content calendars, interactive social media features, and systematic evaluation to enhance community engagement. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Public Relations (PR) dalam penyebaran informasi kegiatan pada Komunitas L. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap tiga informan yang dipilih secara purposive sampling: ketua komunitas, humas komunitas, dan anggota komunitas. Analisis data menerapkan model interaktif Miles dan Huberman, serta divalidasi menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Public Relations Komunitas L menjalankan fungsinya sebagai fasilitator komunikasi melalui pemanfaatan WhatsApp dan Instagram sebagai platform utama penyebaran informasi. Strategi komunikasi yang diterapkan mencakup tahapan perencanaan konten, pengemasan pesan dengan konten visual dan teknologi AI, pemilihan media, pelaksanaan, serta evaluasi. Namun, komunikasi yang berlangsung masih cenderung bersifat satu arah dengan hambatan berupa ketidakkonsistenan jadwal publikasi, penyampaian informasi yang mendadak, dan rendahnya interaksi anggota. Peningkatan melalui jadwal konten terstruktur, fitur interaktif media sosial, dan evaluasi sistematis direkomendasikan untuk meningkatkan keterlibatan anggota komunitas.