Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keterbukaan diri dan dampak psikologis dalam komunikasi interpersonal antara anak perempuan dewasa awal dengan ayah pada mahasiswi Universitas Muria Kudus. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus kolektif dan melibatkan tiga informan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal antara ayah dan anak perempuan dewasa awal cenderung berlangsung secara satu arah, didominasi oleh otoritas ayah, serta minim keterbukaan, empati, dan kesetaraan dalam interaksi. Kondisi tersebut memunculkan berbagai hambatan komunikasi yang berdampak pada rendahnya keterbukaan diri anak, munculnya perasaan sedih, kecemasan, kewaspadaan berlebihan, serta kecenderungan memendam emosi. Untuk menghadapi situasi tersebut, informan menggunakan strategi koping berupa penarikan diri, mengisolasi diri di kamar, mendengarkan musik, menonton film, atau mencari dukungan emosional dari figur lain seperti ibu, kakak, dan anggota keluarga yang dianggap lebih suportif. Meskipun demikian, sebagian informan memaknai sikap tegas dan kontrol ayah sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang yang kurang tepat dalam penyampaiannya. Temuan penelitian ini menunjukkan pentingnya pengembangan komunikasi yang lebih terbuka, empatik, dan setara antara ayah dan anak guna meningkatkan kualitas hubungan keluarga, memperkuat kedekatan emosional, serta mendukung kesejahteraan psikologis anak perempuan dewasa awal