Robert Sibarani
Universitas Sumatera Utara, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

A corpus-based comparison of Indonesian and English adjectives in Toba Caldera tourism promotional texts Eva Tuckyta Sari Sujatna; Robert Sibarani; Dadang Sunendar; Defri Elias Simatupang; Alyssa Myrelia Nafhanda; Zahra Elok Asmanida
Studies in English Language and Education Vol. 13 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/siele.v13i1.206

Abstract

Besides being one of the ten UNESCO Global Geoparks (UGGp) in Indonesia, Toba Caldera is also designated as one of the country’s five super-priority tourism destinations. In promoting the Toba Caldera to the global audience, tourism promotional texts play an important role in enhancing cross-linguistic understanding of adjective use and in contributing to knowledge of linguistic and stylistic strategies for effective tourism communication. Word choice, commonly referred to as diction in promotional texts, has a significant impact on readers, especially through the use of adjectives. Adjectives in tourism promotional texts are not limited to descriptions of destinations; they also convey tourists’ emotions and experiences. This research aimed to compare the syntactic and semantic use of adjectives in Toba Caldera tourism promotional texts in both Indonesian and English using a corpus-based approach. To obtain a reliable description of the data, both qualitative and quantitative methods were employed. Due to limited resources, the researchers were able to collect Toba Caldera promotional texts from only 37 Indonesian articles and 80 English articles. The findings reveal that adjectives accounted for 8.2% of the Indonesian corpus and 11.9% of the English corpus. Syntactically, the findings indicated that attributive adjectives occur more frequently than predicative adjectives in both Indonesian and English texts. Semantically, neutral connotative adjectives were found to be dominant in both language versions, surpassing the use of negative and positive adjectives in tourism promotional texts.
Representasi Budaya Hiou Dalam Penguatan Literasi Pariwisata di Desa Rambung Merah, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun Esther Ria Zalukhu; Robert Sibarani; Flansius Tampubolon
Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced Vol. 4 No. 1 (2026): Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and A
Publisher : Yayasan Sagita Akademia Maju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61579/future.v4i1.690

Abstract

Penelitian ini berjudul “Representasi Budaya Hiou dalam Peningkatan Literasi Pariwisata di Desa Rambung Merah, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun.” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji makna simbolis dan fungsi budaya hiou masyarakat Simalungun, serta potensinya sebagai daya tarik pariwisata dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya lokal. Hiou adalah tekstil tenun tradisional yang mengandung nilai-nilai filosofis dan digunakan dalam berbagai upacara adat masyarakat Simalungun. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan model analisis interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan pemimpin adat, penenun, dan pelaku pariwisata lokal. Penelitian ini menerapkan pendekatan komodifikasi budaya, yaitu proses mengubah objek budaya menjadi komoditas ekonomi dengan nilai tukar tinggi di sektor pariwisata. Temuan penelitian mengidentifikasi tiga belas jenis hiou Simalungun, termasuk: hiou hatirongga, hiou tapak satur, hiou ragi sapot, hiou suri-suri, hiou bulang-bulang, hiou ragi idup, hiou ragi bintang maratur, hiou sitoluntuho, hiou ragi panei, hiou ipput ni hirik, hiou mangiring, hiou tappunei, dan hiou simangkat-angkat. Setiap jenis hiou memiliki fungsi simbolis yang berbeda-beda tergantung pada konteks sosial dan upacara yang melingkupinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hiou tidak hanya berfungsi sebagai penanda identitas budaya, tetapi juga memiliki potensi yang signifikan sebagai produk pariwisata pendidikan yang berakar pada kebijaksanaan lokal.