Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Rendahnya Motivasi Dan Minat Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Ipas Serta Dampaknya Terhadap Proses Pembelajaran Di Min 4 Ende Anna Yuniarty Mbupu; Maria Karmila Bude; Maria Anjelina Sere; Khaidir Khaidir
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.11227

Abstract

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, serta pemahaman siswa terhadap lingkungan sekitarnya. Namun, keberhasilan pembelajaran IPAS tidak hanya ditentukan oleh materi yang diajarkan, tetapi juga dipengaruhi oleh motivasi dan minat belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi motivasi dan minat belajar siswa, mengidentifikasi faktor-faktor penyebab rendahnya motivasi dan minat belajar, serta menganalisis dampaknya terhadap proses pembelajaran IPAS di MIN 4 Ende. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas 15 siswa kelas IV MIN 4 Ende. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi dan minat belajar siswa dalam pembelajaran IPAS masih tergolong rendah. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh kurangnya perhatian siswa terhadap penjelasan guru, rendahnya partisipasi dalam kegiatan pembelajaran, minimnya keterlibatan dalam diskusi, serta rendahnya antusiasme siswa dalam menyelesaikan tugas. Faktor utama yang memengaruhi rendahnya motivasi dan minat belajar siswa adalah penggunaan metode pembelajaran yang masih didominasi metode ceramah serta keterbatasan penggunaan media pembelajaran yang menarik dan variatif. Rendahnya motivasi dan minat belajar berdampak pada kurang optimalnya keterlibatan siswa, terbatasnya interaksi antara guru dan siswa, serta menurunnya efektivitas proses pembelajaran IPAS. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang lebih inovatif, interaktif, dan berpusat pada siswa untuk meningkatkan motivasi dan minat belajar sehingga proses pembelajaran IPAS dapat berlangsung lebih efektif dan bermakna.
Membangun Budaya High-Trust antara Kepala Sekolah dan Guru untuk Optimalisasi Program Kerja Sekolah Khaidir Khaidir
Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, Mei - Agustus 2026
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/jpcp.v4i1.559

Abstract

Keberhasilan program kerja sekolah tidak hanya ditentukan oleh perencanaan yang baik, tetapi juga oleh hubungan yang harmonis antara kepala sekolah dan guru. Namun, dalam praktiknya masih ditemukan berbagai kendala, seperti kurangnya komunikasi, rendahnya keterlibatan guru dalam pengambilan keputusan, serta lemahnya rasa saling percaya. Kondisi ini dapat menghambat pelaksanaan program sekolah dan pencapaian tujuan pendidikan. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pentingnya membangun budaya high-trust antara kepala sekolah dan guru sebagai upaya mengoptimalkan program kerja sekolah. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menelaah berbagai buku, jurnal, dan hasil penelitian yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa budaya high-trust mampu meningkatkan komitmen dan motivasi guru, memperkuat kerja sama, menciptakan komunikasi yang terbuka, serta mendorong partisipasi aktif guru dalam pelaksanaan program sekolah. Selain itu, kepercayaan yang tinggi juga membantu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, kondusif, dan mendukung inovasi dalam pembelajaran. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa budaya high-trust menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan program kerja sekolah. Oleh karena itu, kepala sekolah perlu membangun kepemimpinan yang terbuka, adil, dan kolaboratif agar tercipta hubungan kerja yang saling percaya dan mendukung kemajuan sekolah.