Pati batang kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan sumber karbohidrat non-konvensional yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku industri pangan dan non-pangan, namun kandungan amilopektinnya yang tinggi (75–86%) membatasi kelarutan dan stabilitas termalnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi asam asetat (CH₃COOH) 1%, 3%, dan 5% terhadap kualitas pati batang kelapa sawit meliputi kadar air, kadar abu, kadar amilosa, kadar amilopektin, dan analisis FTIR. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Terpadu ITSI Medan dan Universitas Negeri Medan (Maret 2025–Maret 2026) menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) nonfaktorial dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan (9 satuan percobaan). Modifikasi dilakukan dengan menghidrolisis 20 g pati dalam 100 mL larutan asam asetat pada suhu 40±5°C selama 40 menit, diikuti pencucian dan pengeringan pada 50°C selama 24 jam. Data dianalisis menggunakan ANOVA satu arah dan uji Duncan 5% (SPSS v.26). Hasil menunjukkan konsentrasi asam asetat tidak berpengaruh nyata (p > 0,05) terhadap semua parameter. Perlakuan P3 (5%) menunjukkan nilai tertinggi secara deskriptif: kadar air 7,72%, kadar amilosa 14,66%, dan kadar amilopektin 85,34%. Analisis FTIR menunjukkan pita serapan O–H (3,252–3,258 cm⁻¹), C–H alifatik (2,925–2,926 cm⁻¹), C–O–C (1,149 cm⁻¹), dan C–O (1,076 cm⁻¹) tanpa terbentuknya gugus fungsi baru. Kadar air dan amilosa memenuhi SNI 9098:2022, sedangkan kadar abu dan amilopektin masih melampaui batas standar sehingga diperlukan optimasi pemurnian lebih lanjut. Hasil penelitian ini memberikan informasi dasar mengenai karakteristik pati batang kelapa sawit yang dimodifikasi menggunakan asam asetat dan dapat menjadi acuan dalam pengembangan pati termodifikasi untuk berbagai aplikasi berbasis pati, seperti bahan baku bioplastik, bahan pengisi (filler), maupun produk pangan fungsional yang memerlukan karakteristik fisikokimia tertentu.