Sharnuke Asrilsyak
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Riau, Pekanbaru, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Determinasi kinerja pegawai di Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu: Peran beban kerja kognitif, budaya kerja, dan resiliensi kerja Ahmad Redo Saputra; Abd. Rasyid Syamsuri; Sharnuke Asrilsyak
Jurnal Bisnis Mahasiswa Vol 6 No 3 (2026): Jurnal Bisnis Mahasiswa
Publisher : PT Aksara Indo Rajawali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60036/jbm.1126

Abstract

Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara empiris pengaruh beban kerja kognitif, budaya kerja, dan resiliensi kerja terhadap kinerja pegawai di Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Desain/metodologi/pendekatan – Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi penelitian berjumlah 112 pegawai yang seluruhnya dijadikan responden melalui teknik sampling jenuh (sensus). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan skala Likert dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan software SmartPLS 4. Pengujian data meliputi asumsi klasik, uji t, uji F, dan koefisien determinasi (R²). Temuan – Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kerja kognitif, budaya kerja, dan resiliensi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai baik secara parsial maupun simultan. Beban kerja kognitif merupakan variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap kinerja pegawai, diikuti oleh resiliensi kerja dan budaya kerja. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,779 menunjukkan bahwa 77,9% variasi kinerja pegawai dapat dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut. Keterbatasan penelitian – Penelitian ini terbatas pada satu instansi pemerintah daerah dengan desain penelitian cross-sectional, sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasi secara luas. Selain itu, penelitian ini hanya menggunakan tiga variabel independen sehingga belum mencakup seluruh faktor yang berpotensi memengaruhi kinerja pegawai. Implikasi – Secara praktis, hasil penelitian memberikan rekomendasi kepada organisasi sektor publik, khususnya instansi kesehatan, untuk mengoptimalkan pengelolaan beban kerja kognitif, memperkuat budaya kerja yang positif, serta meningkatkan resiliensi pegawai melalui program pengembangan kapasitas, pelatihan, dan dukungan psikologis. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian manajemen sumber daya manusia sektor publik dengan menegaskan pentingnya faktor kognitif, budaya organisasi, dan faktor psikologis dalam meningkatkan kinerja pegawai. Kebaruan – Penelitian ini menawarkan perspektif yang lebih komprehensif dengan mengintegrasikan secara simultan beban kerja kognitif, budaya kerja, dan resiliensi kerja sebagai determinan kinerja pegawai pada organisasi sektor kesehatan daerah, yang masih relatif jarang dikaji dalam satu model penelitian terpadu.
Pengaruh beban kerja mental dan lingkungan kerja fisik terhadap kinerja karyawan pada PT Henson Alfa Gros di Kota Pekanbaru Bayu Ferisa Nalta; Iwan Nauli Daulay; Sharnuke Asrilsyak
Jurnal Bisnis Mahasiswa Vol 5 No 6 (2025): Jurnal Bisnis Mahasiswa
Publisher : PT Aksara Indo Rajawali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60036/jbm.885

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh beban kerja mental dan lingkungan kerja fisik terhadap kinerja karyawan pada PT. Henson Alfa Gros. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan regresi linier berganda. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada 72 karyawan. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa variabel beban kerja mental berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan (p < 0,05), sedangkan variabel lingkungan kerja fisik tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (p > 0,05). Uji F menyatakan bahwa secara simultan kedua variabel independen tersebut berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan (p < 0,05), dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 15,3%. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya manajemen operasional dalam mengelola beban kerja mental karyawan secara proporsional guna menciptakan kinerja yang optimal. Penelitian ini juga merekomendasikan agar perusahaan meningkatkan sistem insentif dan distribusi kerja yang adil sebagai upaya strategis dalam manajemen sumber daya manusia.