Tujuan – Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan konsep marketing mix serta mengeksplorasi relevansinya dalam mendukung perancangan strategi pemasaran yang berorientasi pasar (Designing Market-Driven Strategy). Desain/metodologi/pendekatan – Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan prosedur PRISMA untuk mengidentifikasi, menyeleksi, dan mensintesis literatur yang relevan. Pencarian dilakukan secara berjenjang dengan Scopus sebagai basis data utama dan Google Scholar serta basis data lain sebagai pelengkap, menghasilkan 140 artikel yang kemudian diseleksi melalui tahap identification, screening, dan eligibility hingga diperoleh 20 artikel yang memenuhi kriteria inklusi untuk dianalisis melalui metode deskriptif dan sintesis tematik. Temuan – Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep marketing mix telah berkembang dari model 4P (product, price, place, promotion) menjadi kerangka 7P (product, price, place, promotion, people, process, physical evidence) untuk mengakomodasi karakteristik sektor jasa. Elemen-elemen marketing mix secara umum berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan, loyalitas pelanggan, keputusan pembelian, dan kinerja pemasaran, meskipun ditemukan inkonsistensi pada beberapa elemen, khususnya promotion dan people, yang pengaruhnya bervariasi tergantung pada sektor industri, tingkat agregasi studi, dan konteks geografis. Selain itu, beberapa studi memberikan bukti tidak langsung yang relevan dengan tahapan designing market-driven strategy, mulai dari penerjemahan informasi pasar ke dalam keputusan marketing mix hingga dampaknya terhadap nilai dan loyalitas pelanggan. Keterbatasan penelitian – Dari 20 artikel yang dikaji, tidak ditemukan studi yang secara eksplisit mengoperasionalkan atau menguji kerangka designing market-driven strategy maupun market orientation, sehingga keterkaitan keduanya dalam penelitian ini bersifat sintesis konseptual berbasis bukti tidak langsung, bukan temuan empiris langsung. Jumlah artikel yang relatif terbatas dan didominasi oleh publikasi 2024–2025, heterogenitas metode penelitian yang menghalangi agregasi statistik, serta penggunaan sebagian kecil sumber non-Scopus juga menjadi keterbatasan dalam generalisasi temuan. Implikasi – Bagi praktisi pemasaran, kajian ini menunjukkan bahwa elemen marketing mix sebaiknya dikelola secara terintegrasi dan disesuaikan dengan karakteristik sektor, tingkat interaksi layanan, serta konteks pasar, alih-alih diterapkan secara generik. Pengelolaan ini berpotensi menjadi penghubung antara pemahaman kebutuhan pasar dan program pemasaran yang dijalankan organisasi, meskipun penerapannya perlu disertai evaluasi berkelanjutan terhadap relevansi dan efektivitasnya dalam konteks organisasi masing-masing. Kebaruan – Penelitian ini memberikan kebaruan dengan mengidentifikasi adanya boundary conditions yang menjelaskan inkonsistensi pengaruh elemen marketing mix antarstudi, serta mengajukan proposisi konseptual mengenai keterkaitan marketing mix dengan designing market-driven strategy berdasarkan sintesis bukti tidak langsung lintas sektor, suatu keterkaitan yang sebelumnya belum dibahas secara integratif dalam literatur marketing mix, sekaligus membuka agenda penelitian empiris untuk menguji proposisi tersebut secara langsung.