Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Reconstructing the Meaning of Ni‘mah in Al-Hikam: Ibn ‘Ata’illah’s Perspective on Tazkiyat Al-Nafs Muhammad Nailul Ma’arif; Nur Alif Arrokhim; Moh. Alfarizi Putra
AN NUR: Jurnal Studi Islam Vol. 18 No. 01 (2026): An-Nur: Jurnal Studi Islam
Publisher : Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) An-Nur Yogyakarta Komplek PP An Nur Ngrukem PO BOX 135 Bantul 55702 Yogyakarta Tlp/Fax (0274) 6469012. http://jurnalannur.ac.id/

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37252/annur.v18i01.2756

Abstract

This study examines the concept of ni‘mah (divine blessing) in al-?ikam by Ibn ‘A??’illah al-Sakandar?, with a particular focus on its function as an instrument of tazkiyat al-nafs (purification of the soul). In many Islamic studies, ni‘mah has generally been understood within theological and moral frameworks as a divine gift that requires gratitude. Such perspectives tend to emphasize the outward and material dimensions of blessings while paying limited attention to their spiritual significance. Against this backdrop, this research aims to analyze Ibn ‘A??’illah’s reconstruction of the meaning of ni‘mah and its relevance to the spiritual crisis of modern society. This research employs a qualitative library-based method using a thematic-descriptive approach. The primary source of this study is al-?ikam, while secondary sources include books, journal articles, and previous studies related to Sufism and the concept of ni‘mah in Islam. The findings reveal that Ibn ‘A??’illah does not merely view ni‘mah as worldly pleasure or material prosperity, but rather as a spiritual medium that shapes inner consciousness, purifies human attachment to worldly matters, and directs the heart toward God. From this perspective, both ease and hardship can equally function as ni‘mah, depending on their impact on one’s spiritual condition. Furthermore, this study demonstrates that the concept of ni‘mah in al-?ikam remains highly relevant to modern challenges, particularly materialism, consumerism, and the growing crisis of spiritual meaning in contemporary life.
Kritik Literatur Hadis Masa Kodifikasi: Studi Komparasi Pandangan Sarjana Barat dan Ulama Azka El Falaahi; Muhammad Nailul Ma’arif
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 5, No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v5i1.5767

Abstract

Hadis adalah salah satu pedoman bagi umat islam. maka dalam penelitian ini ditujukan untuk melihat bagaimana kodifikasi hadis dilakukan oleh ulama kala itu atau masa awal kodifikasi hadis, dan disertai dengan keritik yang mengitarinya. Seperti yang sering di ketahui, bahwa hadis  juga sering dijadikan cela oleh beberapa sarjana barat untuk menjatuhkan islam. Mereka beranggapan bahwa hadis muncul sekian abad sepeninggal Nabi Muhammad SAW, dan merupakan buatan dari ulama abad kedua dan ketiga yang bersekongkol dengan pemimpin kala itu. Pendapat tersebut mendapat sanggahan dari salah seorang ulama. Metodologi yang di gunakan adalah library research, serta di tulis dengan metode kualitatif. Dari tulisan ini didapati bahwa untuk membuktikan otentisitas hadis, sarjana barat juga menggunakan pendekatan sosial dan politik. Hasil penelitian ini adalah pendapat-pendapat sarjana barat tersebut juga mampu di sanggah oleh ilmuan muslim berdasarkan data yang terkumpul Seperti yang dilakukan oleh Mustafa al-’Azami. Meskipun secara metode yang digunakan untuk menjawab berbeda, sarjana muslim menjawab dengan metode logika sedangkan pertanyaan sarjana barat dilontarkan dengan metode empiris dan mengharapkan jawaban yang empiris pula.