Agustina
Sastra Indonesia, Universitas Negeri Padang

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

UJARAN KEBENCIAN WARGANET PADA POSTINGAN AKUN INSTAGRAM PS (@prabowo): KAJIAN LINGUISTIK FORENSIK Viora Alifah; Agustina
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2030

Abstract

This study aims to identify forms of hate speech by netizens in the comment section of the official Instagram account of Indonesian President @prabowo and to analyze the legal implications of such hate speech based on the Criminal Code (KUHP) and the Electronic Information and Transactions Law (UU ITE). A mixed methods approach with a case study design was applied. Data consisted of 500 comments from five posts uploaded between August 27 – September 2, 2025, coinciding with a national demonstration. The study found 911 instances of hate speech in six categories: insult (313 data; 62.6%), unpleasant conduct (145 data; 29%), defamation (193 data; 38.6%), vilification (131 data; 26.2%), provocation (77 data; 15.4%), and incitement (52 data; 10.4%). Each form potentially violates relevant articles in the New Criminal Code and UU ITE. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk ujaran kebencian warganet pada kolom komentar akun Instagram resmi Presiden Indonesia @prabowo serta menganalisis dampak ujaran kebencian tersebut dalam perspektif hukum berdasarkan KUHP dan UU ITE. Metode yang digunakan adalah campuran (mixed method) dengan studi kasus. Data berjumlah 500 komentar dari lima unggahan pada rentang 27 Agustus – 2 September 2025 yang berkaitan dengan demonstrasi nasional. Hasil penelitian menemukan 911 data ujaran kebencian dengan enam bentuk: penghinaan (313 data; 62,6%), perbuatan tidak menyenangkan (145 data; 29%), pencemaran nama baik (193 data; 38,6%), penistaan (131 data; 26,2%), provokasi (77 data; 15,4%), dan menghasut (52 data; 10,4%). Setiap bentuk ujaran kebencian berpotensi melanggar pasal-pasal dalam KUHP Baru dan UU ITE.
PELANGGARAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA WARGANET PADA KOLOM KOMENTAR INSTAGRAM @JOKOWI: KAJIAN PRAGMATIK Zahara Rahmadani; Agustina
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2084

Abstract

This study aims to classify the violations of language politeness principles and describe the causal factors in the comment section of the @jokowi Instagram account. This study employed a descriptive qualitative method with observation and note-taking techniques, in which data were collected from netizens' comments on posts uploaded to the @jokowi Instagram account during the period of April–May 2025. The results show that 146 utterances violated the language politeness principles based on Leech's theory (2015), covering the maxims of tact (29 data), generosity (13 data), approbation (72 data), modesty (8 data), agreement (10 data), and sympathy (14 data), with violations of the approbation maxim being the most dominant. Meanwhile, the most dominant causal factor based on Pranowo's theory (2012) was direct criticism using rude words or phrases (55 data). These findings indicate that social media comment sections often serve as a space for impolite expression without regard for the principles of language politeness.   Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa dan mendeskripsikan faktor penyebabnya pada kolom komentar akun Instagram @jokowi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat. Data dikumpulkan dari komentar warganet pada postingan akun Instagram @jokowi periode April–Mei 2025. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 146 tuturan yang melanggar prinsip kesantunan berbahasa berdasarkan teori Leech (2015), mencakup maksim kearifan (tact maxim) (29 data), kedermawanan (generosity maxim)  (13 data), pujian (approbation maxim) (72 data), kerendahan hati (modesty maxim)  (8 data), kesepakatan (agreement maxim) (10 data), dan simpati (sympathy maxim) (14 data), dengan pelanggaran maksim pujian sebagai yang paling dominan. Adapun faktor penyebab pelanggaran berdasarkan teori Pranowo (2012) yang paling dominan adalah kritik secara langsung dengan kata atau frasa kasar (55 data). Temuan ini menunjukkan bahwa kolom komentar media sosial kerap menjadi wadah ekspresi ketidaksantunan tanpa mempertimbangkan prinsip kesantunan berbahasa.
KARAKTERISTIK TINGKATAN (TARAF) AJEKTIVA DALAM KUMPULAN CERPEN RUMAH IBU KARYA HARRIS EFFENDI THAHAR: KAJIAN MORFOLOGI Syura Anjeliska; Agustina
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2122

Abstract

This study aims to analyze the adjectives used in the short story collection Rumah Ibu by Harris Effendi Thahar, focusing on two main areas: (1) the forms of adjectives utilized, and (2) the degrees of adjectives employed to describe the quality or intensity of a trait. The research employs a qualitative descriptive method using the teknik simak bebas libat cakap (non-participatory observation technique). Data were collected from sentences containing adjectival forms and degrees found within the collection. The results reveal 303 data points categorized according to Kridalaksana’s (1994) theory, comprising basic adjectives (246 data), derivative adjectives (51 data), and compound adjectives (6 data), with basic adjectives being the most dominant. Regarding the degrees of adjectives, also based on Kridalaksana’s (1994) theory, the positive degree is the most prevalent (268 data). These findings suggest that the author avoids hyperbole to ensure that the quality of the characters and the atmosphere remain authentic and sincere.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ajektiva dalam kumpulan cerpen Rumah Ibu karya Harris Effendi thahar yang meliputi dua fokus utama: (1) bentuk ajektiva yang digunakan dalam kumpulan cerpen Rumah Ibu, dan (2) tingkatan ajektiva yang digunakan dalam kumpulan cerpen Rumah Ibu untuk menggambarkan kualitas atau intensitas suatu sifat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak bebas libat cakap. Data dikumpulkan dari kalimat yang mengandung bentuk dan tingkatan ajektiva yang bersumber dari Kumpulan cerpen Rumah Ibu karya Harris Effendi Thahar. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 303 data yang termasuk dalam bentuk dan tingkatan ajektiva berdasarkan teori Kridalaksana (1994), mencakup ajektiva dasar (246 data), ajektiva turunan (51 data), dan ajektiva majemuk (6 data), dengan ajektiva dasar yang paling dominan. Adapun tingkatan ajektiva berdasarkan teori Kridalaksana (1994) yang paling dominan adalah tingkatan positif (268 data). Temuan ini menunjukkan bahwa penulis menghindari hiperbola agar kualitas karakter dan suasana tetap jujur dan asli.
STRATEGI KESANTUNAN BERBAHASA WARGANET DALAM KOMENTAR PADA AKUN INSTAGRAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Afroza Susandra; Agustina
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2212

Abstract

This study aims to describe the types of politeness strategies and the pragmatic functions embedded in netizens' comments on the Instagram account @presidenrepublikindonesia during November–December 2025. The problem arises because the account's comment section displays a wide range of language, from appreciation to sarcasm, making it worth examining from a politeness perspective. This research employed a qualitative descriptive method using observation and note-taking techniques; data were collected through screenshots of comments and analyzed using Brown and Levinson's (1987) politeness theory. The results show that of 180 data, positive politeness strategies dominated with 107 data (59.44%), particularly the joking strategy (13.89%), while negative politeness strategies accounted for 73 data (40.56%), dominated by the questioning strategy (13.33%). The most dominant pragmatic functions were criticism and suggestion, each comprising 53 data (29.44%). In conclusion, netizens consistently apply politeness principles when conveying criticism, suggestions, support, sarcasm, and evaluation toward the President through social media. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis-jenis strategi kesantunan berbahasa dan fungsi pragmatik yang terkandung dalam komentar warganet pada akun Instagram @presidenrepublikindonesia periode November–Desember 2025. Masalah penelitian ini muncul karena kolom komentar akun tersebut menampilkan variasi bahasa yang luas, mulai dari apresiasi hingga sindiran, sehingga menarik dikaji dari sudut pandang kesantunan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat; data dikumpulkan melalui tangkapan layar komentar, kemudian dianalisis berdasarkan teori kesantunan Brown dan Levinson (1987). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 180 data, strategi kesantunan positif mendominasi dengan 107 data (59,44%), terutama strategi bercanda (13,89%), sedangkan strategi kesantunan negatif ditemukan pada 73 data (40,56%), didominasi strategi menggunakan pertanyaan (13,33%). Fungsi pragmatik yang paling dominan adalah kritik dan saran, masing-masing 53 data (29,44%). Simpulannya, warganet tetap menerapkan prinsip kesantunan berbahasa dalam menyampaikan kritik, saran, dukungan, sindiran, maupun evaluasi kepada Presiden melalui media sosial.
KARAKTERISTIK KESANTUNAN TINDAK TUTUR EKSPRESIF DALAM KOMENTAR WARGANET PADA AKUN INSTAGRAM @bgsadikin Suci Fitriyani; Agustina
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2217

Abstract

This study aims to describe the types and strategies of expressive speech acts used by netizens in negative comments on the Instagram account @bgsadikin. This research applies a descriptive qualitative method with a documentation technique to collect 150 netizen comments, which were analyzed based on the theory of expressive speech acts and Brown and Levinson's politeness strategies. The results show seven types of expressive speech acts: sarcasm (24.00%), praising and complaining (18.00% each), criticizing (16.00%), expressing anger (14.00%), expressing happiness (8.00%), and expressing gratitude (2.00%), while apologizing was not found. In terms of speech strategies, four strategies were identified, with the off-record strategy being the most dominant (34.00%), followed by bald-on-record (31.33%), positive politeness (27.33%), and negative politeness (7.33%). These findings indicate that netizens tend to convey criticism toward health policies indirectly through sarcasm and implicit expressions. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis-jenis dan strategi tindak tutur ekspresif yang digunakan warganet dalam komentar negatif pada akun Instagram @bgsadikin. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik dokumentasi untuk mengumpulkan data berupa 150 komentar warganet yang dianalisis berdasarkan teori tindak tutur ekspresif dan strategi kesantunan Brown dan Levinson. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan tujuh jenis tindak tutur ekspresif, yaitu menyindir (24,00%), memuji dan mengeluh (masing-masing 18,00%), mengkritik (16,00%), mengungkapkan rasa marah (14,00%), mengungkapkan rasa senang (8,00%), dan mengucapkan terima kasih (2,00%), sedangkan mengucapkan maaf tidak ditemukan. Dari segi strategi bertutur, ditemukan empat strategi yang digunakan, dengan strategi bertutur samar-samar sebagai strategi paling dominan (34,00%), diikuti strategi terus terang tanpa basa-basi (31,33%), kesantunan positif (27,33%), dan kesantunan negatif (7,33%). Temuan ini menunjukkan bahwa warganet cenderung menyampaikan kritik terhadap kebijakan kesehatan secara tidak langsung melalui sindiran dan ungkapan implisit.