Penyebaran hoaks di era digital menjadi tantangan yang semakin kompleks, terutama bagi mahasiswa sebagai kelompok yang aktif mengakses dan menyebarkan informasi melalui media digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran penalaran analitis sebagai variabel mediasi dalam hubungan antara literasi digital dan resistensi hoaks pada mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling yang melibatkan 60 mahasiswa aktif dari perguruan tinggi di Indonesia berusia 18–25 tahun. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan skala Likert empat poin, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan prosedur mediasi Baron dan Kenny (1986). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh hubungan antar variabel bersifat positif dan signifikan pada taraf p kurang dari 0,01, yaitu antara literasi digital dan penalaran analitis (r sama dengan 0,52), literasi digital dan resistensi hoaks (r sama dengan 0,45), serta penalaran analitis dan resistensi hoaks (r sama dengan 0,48). Setelah penalaran analitis dimasukkan sebagai variabel mediator, koefisien hubungan antara literasi digital dan resistensi hoaks menurun dari r sama dengan 0,45 menjadi r sama dengan 0,28, yang mengindikasikan adanya mediasi parsial berdasarkan prosedur Baron dan Kenny. Temuan ini menunjukkan bahwa penalaran analitis berperan sebagai mediator parsial dalam hubungan antara literasi digital dan resistensi hoaks pada mahasiswa. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan kemampuan penalaran analitis sebagai bagian dari pengembangan program literasi digital di lingkungan pendidikan tinggi.