Di ruang perawatan intensif (ICU), setiap keputusan klinis perawat membawa konsekuensi langsung bagi keselamatan pasien. Kemampuan berpikir sistematis dan kritis dalam situasi gawat inilah yang disebut penalaran klinis, dan inilah yang membedakan perawat yang sekadar melaksanakan instruksi dari perawat yang benar-benar berkontribusi pada pemulihan pasien. Salah satu dampak nyata dari kualitas penalaran klinis tercermin pada Length of Stay (LOS), yaitu lamanya pasien dirawat di ICU, yang sekaligus menjadi tolok ukur efisiensi dan mutu pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Kajian ini menggunakan pendekatan literature review dengan menelaah 10 artikel ilmiah yang dipilih melalui kerangka PICOS. Pencarian literatur dilakukan pada basis data PubMed, Google Scholar, Scopus, Cochrane Library, dan ScienceDirect, mencakup publikasi tahun 2010 hingga 2025, dengan kriteria relevansi terhadap penalaran klinis perawat, penilaian kompetensi klinis, serta faktor-faktor yang berkaitan dengan LOS pasien ICU. Hasil telaah menunjukkan bahwa perawat dengan kemampuan penalaran klinis yang baik cenderung lebih akurat dalam mengkaji kondisi pasien, lebih cepat mendeteksi tanda perburukan, dan lebih tepat dalam pengambilan keputusan, sehingga turut menekan LOS. Instrumen Nurse Clinical Reasoning Scale (NCRS) secara konsisten menunjukkan validitas dan reliabilitas tinggi dengan Cronbach's alpha 0,91–0,94. Faktor-faktor yang terbukti memengaruhi LOS meliputi skor APACHE II, komorbiditas, usia pasien, dan mutu asuhan keperawatan. Penerapan clinical pathway yang ditunjang penalaran klinis yang solid terbukti mampu memperpendek durasi rawat secara bermakna. Penalaran klinis perawat terbukti berkaitan erat dengan efisiensi Length of Stay pasien di ruang ICU. Oleh sebab itu, penguatan kompetensi ini, baik melalui pembelajaran berbasis masalah maupun pelatihan berbasis simulasi, sudah seharusnya menjadi agenda utama dalam pengembangan tenaga keperawatan kritis.