This Community Service Program (PKM) is motivated by the limited ability of early childhood education (PAUD) teachers to implement ecoliteracy-based learning integrated with local culture, particularly in the Banowati Cluster, Sukoharjo Regency. Learning practices tend to be academic-oriented and less contextual, resulting in the underutilization of environmental and local cultural potential as learning resources. The focus of this program is to enhance teachers’ competencies in designing and implementing ecoliteracy-based learning activities rooted in Sukoharjo’s local culture. The implementation method employs a participatory approach through five stages: coordination and timeline preparation, procurement of learning materials, teacher training, implementation mentoring, evaluation and follow-up planning, and and reports. The results indicate an improvement in teachers’ understanding and skills in integrating ecoliteracy concepts with local cultural elements, such as activities involving preparation batik-making. Furthermore, teachers were able to conduct more contextual, interactive, and meaningful learning, which positively impacted children’s engagement and enthusiasm. ABSTRAK Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya kemampuan guru PAUD dalam mengimplementasikan pembelajaran ekoliterasi yang terintegrasi dengan budaya lokal, khususnya di Gugus Banowati Kabupaten Sukoharjo. Pembelajaran yang dilakukan cenderung bersifat akademis dan kurang kontekstual, sehingga potensi lingkungan dan budaya lokal belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber belajar. Fokus kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan activity pembelajaran ekoliterasi berbasis budaya lokal Sukoharjo. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui enam tahapan, yaitu koordinasi dan penyusunan timeline, pengadaan kebutuhan pelatihan, pelatihan kemampuan guru, pendampingan implementasi, evaluasi pelatihan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan guru dalam mengintegrasikan konsep ekoliterasi dengan budaya lokal, seperti melalui aktivitas mengenalkan membatik. Selain itu, guru mampu melaksanakan pembelajaran yang lebih kontekstual, interaktif, dan bermakna, yang berdampak pada meningkatnya keterlibatan dan antusiasme anak dalam proses belajar.