Pungky Mareta Arianti
Universitas Negeri Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MEMORI KOLEKTIF PRASASTI KEMBANG SORE SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH LOKAL DALAM MEMPERKUAT IDENTITAS SOSIAL PEMBELAJARAN IPS Pungky Mareta Arianti; Sinta Lidia Fitriani; Nesya Cristy Aprilina; Nia Ramadhani; Mahira Deta Naila Ansaria; Divana Jingga Aurel Lia; Agung Setiawan
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i2.10546

Abstract

This study aims to describe the collective memory of the Petak Village community regarding the Kembang Sore Inscription, analyze the dynamics of memory transmission across generations, and formulate its potential as a source of local history learning in Social Studies (IPS) instruction. The research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through field observations, in-depth interviews with six informants consisting of the inscription caretaker, cross-generational residents (aged 50-80 years, 25-40 years, and adolescents aged 15-20 years), and document analysis. The findings reveal three main results. First, collective memory about the inscription remains strong among the older generation, begins to fade among young adults, and is limited among adolescents. Second, the community interprets the inscription's symbols (sun, moon, mountain stamp, lingga yoni, and water vessel) in the context of land ownership, fertility, and spiritual protection. Third, the inscription still functions as a village sacred site with regularly preserved rituals, making it a living heritage. The Kembang Sore Inscription has great potential as a source of social studies learning, encompassing aspects of government legality, leadership, spirituality, and social identity reinforcement. This study concludes that the community's collective memory about the inscription is still maintained but requires more effective transmission efforts to younger generations. This inscription deserves to be integrated into social studies learning through field trip methods and digital media development. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur memori kolektif masyarakat Desa Petak tentang Prasasti Kembang Sore, menganalisis dinamika transmisi memori antar generasi, serta merumuskan potensinya sebagai sumber belajar sejarah lokal dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan enam informan yang terdiri dari juru kunci, warga lintas generasi (usia 50-80 tahun, 25-40 tahun, dan remaja 15-20 tahun), serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, memori kolektif tentang prasasti masih kuat pada generasi tua, mulai menipis pada generasi dewasa muda, dan terbatas pada generasi remaja. Kedua, masyarakat memaknai simbol-simbol prasasti (matahari, bulan, stempel gunung, lingga yoni, dan kendi) dalam konteks kepemilikan tanah, kesuburan, dan perlindungan spiritual. Ketiga, prasasti hingga kini berfungsi sebagai punden desa dengan ritual rutin yang masih dilestarikan, menjadikannya sebagai living heritage. Prasasti Kembang Sore memiliki potensi besar sebagai sumber belajar IPS, mencakup aspek legalitas pemerintahan, kepemimpinan, spiritualitas, dan penguatan identitas sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa memori kolektif masyarakat tentang prasasti masih terjaga namun memerlukan upaya transmisi yang lebih efektif kepada generasi muda. Prasasti ini layak diintegrasikan ke dalam pembelajaran IPS melalui metode field trip dan pengembangan media digital.  
REKONSTRUKSI NILAI KETELADANAN PANEMBAHAN BODHO SEBAGAI INSTRUMEN PENGUATAN KARAKTER IPS Pungky Mareta Arianti
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.11459

Abstract

Social Studies learning has so far been theoretical and less than optimal in instilling character, while the flow of globalization has led to the erosion of noble values among the younger generation. On the other hand, the younger generation is also starting to lose connection with their local historical identity due to the phenomenon of generational amnesia. This study aims to reconstruct the exemplary values of the local figure Panembahan Bodho and formulate their potential as an instrument for character strengthening in Social Studies learning. The research employs a qualitative approach with a library research method. Data collection was conducted through the exploration of various primary and secondary literature sources, including theses, scientific journals, books, and historical documents related to Panembahan Bodho and the Nyadran tradition at Makam Sewu in Bantul, Yogyakarta. The data analysis technique uses content analysis with the Miles and Huberman model. The findings reveal three main results. First, the historical profile of Panembahan Bodho shows a figure as a student of Sunan Kalijaga who chose to dedicate himself to Islamic da'wah, with the nickname "Bodho" representing the values of humility and asceticism. Second, the exemplary values reconstructed include religious and humanistic values, simplicity and asceticism, servant leadership, mutual cooperation, and local wisdom. Third, these values have great potential to be integrated into Social Studies learning, covering aspects of local history, character education, strengthening social identity, and implementing the Pancasila Student Profile. This study concludes that the reconstruction of Panembahan Bodho's exemplary values contributes to enriching local wisdom-based Social Studies materials and serves as a strategy for strengthening students' character in the era of globalization. ABSTRAK Pembelajaran IPS selama ini masih bersifat teoretis dan kurang maksimal dalam penanaman karakter, sementara arus globalisasi telah menyebabkan lunturnya nilai-nilai luhur di kalangan generasi muda. Di sisi lain, generasi muda juga mulai kehilangan koneksi dengan identitas sejarah lokalnya akibat fenomena generational amnesia. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi nilai-nilai keteladanan tokoh lokal Panembahan Bodho serta merumuskan potensinya sebagai instrumen penguatan karakter dalam pembelajaran IPS. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran sumber literatur primer dan sekunder, termasuk skripsi, jurnal ilmiah, buku, dan dokumen sejarah terkait Panembahan Bodho serta tradisi Nyadran Makam Sewu di Bantul, Yogyakarta. Teknik analisis data menggunakan analisis isi (content analysis) dengan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, profil historis Panembahan Bodho menunjukkan sosok murid Sunan Kalijaga yang memilih mengabdikan diri dalam dakwah Islam, dengan julukan "Bodho" yang merepresentasikan nilai kerendahan hati dan asketisme. Kedua, nilai-nilai keteladanan yang direkonstruksi meliputi nilai religiusitas dan humanisme, kesederhanaan dan asketisme, kepemimpinan pelayanan, gotong royong, serta kearifan lokal. Ketiga, nilai-nilai tersebut memiliki potensi besar untuk diintegrasikan ke dalam pembelajaran IPS, mencakup aspek sejarah lokal, pendidikan karakter, penguatan identitas sosial, dan implementasi Profil Pelajar Pancasila. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi nilai keteladanan Panembahan Bodho berkontribusi bagi pengayaan materi IPS berbasis kearifan lokal serta menjadi strategi penguatan karakter peserta didik di era globalisasi.