This study examines bhu khani ra wali as a local philosophy of the Homfolo community in Sentani, Papua, in constructing contextual and ecological Christian faith. The study departs from the dichotomy between faith and tradition, which often causes Christian education to become abstract and detached from the lived experiences of the community. This research employs a qualitative interpretative-constructivist approach through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. The findings show that bhu khani ra wali, which means “land and water are my life,” is not merely cultural wisdom, but an ontological and axiological foundation that connects human beings, God, ancestors, land, water, and the environment. This value shapes faith as a relational praxis expressed through responsibility for caring for creation. In Christian education, bhu khani ra wali serves as a theological-pedagogical foundation for forming a grounded, ecological, and transformative faith. The novelty of this study lies in positioning local wisdom as a foundation for constructing contextual Christian faith.Penelitian ini mengkaji bhu khani ra wali sebagai filosofi lokal masyarakat Homfolo, Sentani, Papua, dalam membangun iman Kristen yang kontekstual dan ekologis. Kajian ini berangkat dari dikotomi antara iman dan tradisi yang sering membuat pendidikan Kristen bersifat abstrak dan terlepas dari pengalaman hidup masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif-konstruktivis melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bhu khani ra wali, yang berarti “tanah dan air adalah hidup saya”, bukan sekadar kearifan budaya, melainkan fondasi ontologis dan aksiologis yang menghubungkan manusia, Allah, leluhur, tanah, air, dan lingkungan. Nilai ini membentuk iman sebagai praksis relasional yang tampak dalam tanggung jawab menjaga ciptaan. Dalam pendidikan Kristen, bhu khani ra wali menjadi dasar teologis-pedagogis untuk membentuk iman yang membumi, ekologis, dan transformatif. Kebaruan penelitian terletak pada penempatan kearifan lokal sebagai fondasi konstruksi iman Kristen kontekstual.