Sondang P. Sirait
KSM Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

TUBERKULOSIS KUTIS VERUKOSA KRONIS DI LUTUT: TANTANGAN DIAGNOSIS PADA LESI VERUKOSA MENAHUN Chinda Liaska Indah; Sri Linuwih SW Menaldi; Erdina H. D. Pusponegoro; Sondang P. Sirait
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 53 No 2 (2026): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v53i2.510

Abstract

   Pendahuluan: Tuberkulosis kutis merupakan bentuk tuberkulosis ekstraparu akibat infeksi Mycobacterium tuberculosis (MTB) dengan manifestasi klinis yang beragam sehingga sering menyulitkan diagnosis. Kasus: Laki-laki, 29 tahun, mengeluh bercak merah keunguan pada lutut kiri sejak 16 tahun setelah trauma. Lesi tidak gatal maupun nyeri. Plak eritematosa verukosa dengan tepi violaseus, berbatas tegas, penjalaran serpiginosa, disertai skuama dan krusta ditemukan pada lutut kiri. Pemeriksaan histopatologis, tes cepat molekuler (TCM) Xpert MTB/Rif, kultur MTB, kultur jamur, dan kultur Mycobacteria Other Than Tuberculosis (MOTT) telah dilakukan. Hasil TCM menunjukkan Mycobacterium tuberculosis terdeteksi dan sensitif terhadap rifampisin, dan pemeriksaan histopatologi menunjukkan gambaran granuloma sesuai TB kutis. Berdasarkan temuan klinis dan pemeriksaan penunjang, ditegakkan diagnosis tuberkulosis verukosa kutis. Diskusi: Diagnosis tuberkulosis kutis memerlukan korelasi klinis dan pemeriksaan penunjang karena manifestasi yang beragam serta sifat pausibasiler lesi. Pemeriksaan TCM berperan penting dalam mendeteksi M. tuberculosis dan mendukung penegakan diagnosis. Simpulan: Tuberkulosis kutis dapat menjadi tantangan diagnostik akibat variasi gambaran klinis. Pendekatan diagnostik yang sistematis diperlukan untuk menegakkan diagnosis secara tepat sehingga terapi antituberkulosis dapat segera diberikan dan prognosis pasien menjadi lebih baik.