Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

APLIKASI REKAYASA BIODIGESTER PORTABEL SI-BIMO: STRATEGI VALORISASI KOTORAN HEWAN MENJADI BIOGAS DAN BIO-SLURRY DI DESA KIBIN, BANTEN: SI-BIMO PORTABLE BIODIGESTER ENGINEERING APPLICATION: ANIMAL MANURE VALUIZATION STRATEGY INTO BIOGAS AND BIO-SLURRY IN KIBIN VILLAGE, BANTEN Muhammad Hardiman Nur Ramadhan; Sandra Mayang Dika Ridwan; Andriansyah; Supriyanto; Kisto; Woro Mustika Resmi
ABDIMAS Vol 6 No 04 (2026): PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/abdimass.v6i04.2804

Abstract

Desa Kibin, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, memiliki kepadatan penduduk mencapai 8.700 jiwa yang didukung oleh pertumbuhan sektor industri sekunder dan aktivitas pertanian informal. Keberadaan peternakan komunal sapi potong dan ayam broiler menghasilkan limbah kotoran hewan dalam jumlah besar setiap hari. Pengelolaan limbah secara konvensional melalui open dumping menyebabkan pencemaran bau amonia (NH₃) yang mengganggu lingkungan permukiman serta meningkatkan emisi gas rumah kaca berupa metana (CH₄). Di sisi lain, masyarakat dan pelaku UMKM setempat masih bergantung pada LPG komersial dan pupuk kimia sintetis yang rentan terhadap fluktuasi harga. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini menawarkan solusi melalui inisiatif SI-BIMO (Sosialisasi Biogas Mandiri Optimal). Kegiatan dilaksanakan melalui perancangan dan instalasi biodigester portabel hibrida berkapasitas 200 liter berbahan High-Density Polyethylene (HDPE) yang dilengkapi gasket uniseal kedap udara. Proses fermentasi anaerobik dioptimalkan menggunakan aktivator Effective Microorganisms 4 (EM4) peternakan dan molase. Hasil commissioning test menunjukkan bahwa sistem beroperasi dengan sangat baik dan mampu menghasilkan nyala api biru yang stabil pada kompor gas termodifikasi. Selain menghasilkan biogas sebagai sumber energi alternatif, proses ini juga menghasilkan bio-slurry dengan kualitas agronomis yang baik, ditandai oleh kandungan nitrogen total sebesar 2,92% (fase cair), rasio C/N sebesar 9,09%, serta kandungan asam humat berkisar antara 10%–20%. Pemanfaatan bio-slurry terbukti meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi kebutuhan pupuk kimia hingga 8%–14%. Implementasi teknologi ini juga berkontribusi pada pengurangan pengeluaran energi rumah tangga. Evaluasi hasil kegiatan menunjukkan bahwa tingkat pemahaman dan keterampilan mitra dalam pengoperasian sistem meningkat hingga lebih dari 80%. Secara keseluruhan, SI-BIMO berhasil mengubah limbah peternakan yang semula menjadi sumber pencemaran menjadi aset ekonomi sirkular yang mendukung kemandirian energi, ketahanan pangan, dan pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat.
PELATIHAN DAN APLIKASI TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN MASYARAKAT DI KAMPUNG PASIRDANGDOR, DESA WARINGIN KURUNG, KABUPATEN SERANG Muhammad Hardiman Nur Ramadhan; Febriyanto; Kisto; Woro Mustika Resmi
ABDIMAS Vol 6 No 02 (2026): PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/abdimass.v6i02.2701

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan di Kampung Pasirdangdor, Desa Waringin Kurung, Kabupaten Serang , yang memiliki potensi agrikultur melimpah namun terkendala proses pascapanen. Mayoritas proses masih manual , memakan waktu, dan menghasilkan nilai tambah rendah. Tujuan kegiatan ini adalah membantu masyarakat mengatasi keterbatasan sarana melalui pelatihan dan implementasi Teknologi Tepat Guna (TTG). Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif yang mencakup empat tahap: persiapan, sosialisasi, pelatihan, dan evaluasi . Solusi yang diimplementasikan adalah 1) Alat pencacah serbaguna untuk pakan ternak/kompos , dan 2) Mesin pengering sederhana berbasis energi matahari. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan keterampilan masyarakat dalam mengoperasikan dan merawat mesin. Implementasi TTG ini berhasil meningkatkan efisiensi proses pascapanen, meningkatkan kualitas produk (terutama saat musim hujan), dan membuka potensi peningkatan nilai tambah hasil panen. Selain itu, telah terbentuk kelompok masyarakat mandiri yang mengelola pemanfaatan alat untuk menjamin keberlanjutan.