Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu kawasan yang secara konsisten mengalami kejadian bencana tanah longsor berulang, terutama sepanjang jalur Jalan Trans Timor Km 73. Kejadian longsor besar tercatat pada Februari 2023, Juni 2023, dan Maret 2025, yang masing-masing berdampak pada terputusnya akses transportasi lintas Pulau Timor, kerusakan permukiman warga, serta pengungsian ratusan jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis faktor-faktor risiko yang melatarbelakangi kejadian tanah longsor di Kecamatan Takari; (2) mengevaluasi efektivitas strategi mitigasi yang telah diterapkan oleh pemerintah daerah dan BPBD Kabupaten Kupang; serta (3) merumuskan rekomendasi strategi mitigasi yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode library research, yaitu pengumpulan dan analisis data dari berbagai sumber literatur ilmiah, dokumen kebijakan, laporan resmi BPBD, berita media massa, dan regulasi penanggulangan bencana yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor utama risiko longsor di Takari meliputi kondisi geologi yang labil, curah hujan tinggi pada musim penghujan, kemiringan lereng yang curam, serta alih fungsi lahan dan minimnya vegetasi penutup tanah. Dari sisi mitigasi, pemerintah daerah telah melakukan langkah-langkah responsif berupa pengerahan alat berat, evakuasi warga, dan koordinasi lintas sektor, namun belum didukung oleh sistem peringatan dini yang memadai, peta rawan longsor yang diperbaharui, serta program mitigasi berbasis komunitas yang berkelanjutan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kapasitas kelembagaan BPBD, pengembangan sistem peringatan dini berbasis teknologi, serta pemberdayaan masyarakat sebagai ujung tombak mitigasi bencana.