Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penetapan Nafkah Mantan Istri Nusyuz Perspektif Hukum Progresif Sadjipto Rahardjo: Studi Putusan Nomor 293/Pdt.G/2023/Pa.Sal Syifa Maulani; Arif Dika Prasetya
Minhaj: Jurnal Ilmu Syariah Vol. 7 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/minhaj.v7i2.4701

Abstract

Studi Putusan Nomor 293/Pdt.G/2023/Pa.Sal)   Syifa Maulani Universitas Islam Negeri Salatiga syiifa1607@gmail.com   Arif Dika Prasetya Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta arif.dika25@mhs.uinjkt.ac.id   Abstract: Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyatakan bahwa istri yang nusyuz tidak berhak memperoleh nafkah iddah maupun mut’ah. Akan tetapi, dalam Putusan Nomor 293/Pdt.G/2023/PA.Sal, hakim tetap memberikan nafkah iddah kepada mantan istri yang dinyatakan nusyuz. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam Putusan Nomor 293/Pdt.G/2023/PA.Sal terkait pemberian nafkah iddah kepada mantan istri yang dinyatakan nusyuz, serta mengkaji relevansinya dalam perspektif hukum progresif Satjipto Rahardjo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif, melalui analisis terhadap putusan pengadilan dan peraturan perundang-undangan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa putusan hakim mencerminkan penerapan hukum progresif, di mana hukum tidak dipahami secara kaku, melainkan sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan substantif dan nilai kemanusiaan. Hakim menggunakan kewenangan ex officio untuk menafsirkan hukum secara kontekstual, sehingga tetap memberikan perlindungan kepada pihak yang berada dalam posisi rentan. Dengan demikian, putusan ini menjadi contoh konkret bahwa hukum dapat bersifat dinamis, responsif, dan berorientasi pada keadilan yang lebih luas
Reinterpretasi Ayat-Ayat Silaturahmi Di Era Digital: Upaya Membangun Interaksi Sosial Perspektif Al-Qur’an Arif Dika Prasetya; Syifa Maulani
Kartika: Jurnal Studi Keislaman Vol. 6 No. 2 (2026): Kartika: Jurnal Studi Keislaman (May)
Publisher : Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPT NU) PCNU Kabupaten Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59240/kjsk.v6i2.725

Abstract

Digital transformation has reshaped patterns of social interaction, including the practice of silaturahmi. Previously associated with face-to-face meetings that foster emotional closeness, these relationships are now increasingly conducted through virtual media. This situation creates a social paradox: technology expands connectivity, yet it may reduce the depth of relationships and the spiritual value of human interaction. This study aims to reinterpret Qur’anic verses on silaturahmi and to formulate Qur’anic guidelines for building social interaction in the digital era. The method used is a qualitative approach through library research with a thematic (maudhu’i) tafsir analysis. The findings indicate that silaturahmi has two main dimensions: yuushola, which emphasizes the spiritual relationship with Allah, and al-arham, which emphasizes social relationships among people. Both dimensions form the ethical foundation of social interaction. In the digital context, these values can be implemented by positioning technology as a means (wasilah) rather than an end (ghayah), preventing relational damage and digital isolation, and balancing virtual interactions with face-to-face encounters. Thus, digital technology can be utilized to strengthen silaturahmi in accordance with Qur’anic values in a sustainable manner