Latar belakang penelitian ini berangkat dari kuatnya komitmen masyarakat Tengger Desa Ngadiwono dalam mempertahankan adat, tradisi, dan budaya leluhur yang masih dilaksanakan secara berkelanjutan hingga saat ini. Salah satu tradisi yang masih dijunjung tinggi adalah upacara Walagara sebagai bagian penting dalam siklus kehidupan sosial-keagamaan masyarakat setempat. Upacara Walagara merupakan bagian dari tradisi wiwaha Samskara masyarakat Tengger yang memiliki fungsi religius, social, dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam prosesi, tujuan dan makna, serta nilai-nilai pendidikan Agama Hindu yang terkandung dalam upacara Walagara di Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian etnografi. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena sosial, budaya, dan keagamaan yang berkembang dalam masyarakat Tengger, khususnya berkaitan dengan prosesi Upacara Walagara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi upacara Walagara Putihan terdiri atas beberapa tahapan, yaitu: (a) suguhan kepada para leluhur yang dilaksanakan pada sore hari pertama, (b) rakatawang sebagai pembuka hubungan antara alam leluhur dan alam manusia, (c) nurunen, (d) temu manten, (e) walagara, (f) dedulit, (g) antrem-antrem, (h) kayopan agung, (i) gelang lawe, (j) nampeng, (k) mangsu, (l) bati/bakti, (m) persaitan, dan (n) mangsu sebagai tahap penutup upacara. Upacara Walagara memiliki tujuan sebagai sarana pembersihan secara sekala dan niskala, pengesahan ikatan perkawinan, serta pemberitahuan kepada Dhyang Banyu, leluhur, dan Rojo Kabuyutan bahwa pasangan pengantin telah resmi menjadi suami istri. Selain itu, upacara ini juga dimaknai sebagai upaya menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat Tengger. Nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu yang terkandung dalam upacara Walagara meliputi nilai kebersamaan dan gotong royong, kesusilaan, harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan, manusia, dan alam (Tri Hita Karana), nilai yadnya (pengorbanan suci), serta nilai tanggung jawab sosial dan spiritual. Dengan demikian, upacara Walagara tidak hanya memiliki makna ritual, tetapi juga mengandung nilai edukatif yang relevan dalam pembentukan karakter masyarakat.