Johan
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Survei tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien hipertensi terhadap penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Kaduhejo Pandeglang tahun 2025 Ghyna Aulia Rozak; Johan
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.34423

Abstract

Hipertensi, “the silent killer”, menjadi tantangan besar dalam dunia kesehatan global karena prevalensinya yang luas serta kontribusinya terhadap angka kematian yang tinggi. Prevalensi hipertensi mencapai angka 31% di Puskesmas Kaduhejo pada bulan Agustus 2024. Keberhasilan terapi hipertensi sangat dipengaruhi oleh kedisiplinan pasien dalam mengonsumsi obat. Sayangnya, banyak kendala yang muncul, seperti ketidak teraturan minum obat, minimnya informasi serta pemahaman yang kurang mengenai terapi yang dijalani. Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan rancangan observasional potong lintang untuk mengevaluasi seberapa baik pemahaman dan kepatuhan pasien di Puskesmas Kaduhejo dalam penggunaan obat antihipertensi. Pengambilan 104 pasien hipertensi dilakukan menggunakan metode consecutive sampling. Instrumen studi berupa kuesioner yang terdiri dari dua bagian: 8 pertanyaan mengenai pemahaman seputar hipertensi dan obat antihipertensi dan 8 pertanyaan mengenai perilaku kepatuhan dalam konsumsi obat antihipertensi. Dari hasil yang diperoleh, mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup (55,8%), namun masih banyak yang belum memahami secara mendalam risiko komplikasi dari hipertensi (59,6%) serta efek samping obat antihipertensi (62,5%) dan sebagian besar responden menunjukkan kepatuhan yang rendah dalam menjalankan terapi pengobatan hipertensi (73,1%). Secara umum, studi ini menyimpulkan bahwa keterbatasan informasi tentang komplikasi dan efek samping obat, serta rendahnya kepatuhan dalam menjalani pengobatan menjadi isu utama dalam penanganan hipertensi di Puskesmas Kaduhejo.
Laringoplasti injeksi asam hialuronat sebagai terapi korektif insufisiensi glotis pada paralisis pita suara unilateral akibat tuberkulosis paru: Laporan kasus Heri Yanto Putra; Guntur Surya; Johan
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.37846

Abstract

Paralisis pita suara unilateral merupakan kondisi yang menyebabkan disfonia akibat gangguan penutupan glotis. Salah satu etiologi fungsional yang jarang namun penting ialah tuberkulosis paru (TB Paru), meskipun tidak terdapat keterlibatan langsung struktur laring. Laporan kasus seorang perempuan berusia 59 tahun datang dengan keluhan suara serak yang berlangsung menetap selama tiga bulan. Laringoskopi menunjukkan paralisis pita suara sisi kiri, sementara radiografi toraks menunjukkan adanya fibroinfiltrat dan kavitas pada apeks paru kiri. Pemeriksaan sputum Basil Tahan Asam (BTA) positif. Pasien menjalani terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) selama enam bulan disertai rehabilitasi suara, namun tidak didapatkan perbaikan pergerakan pita suara. Oleh karena itu, dilakukan injeksi asam hialuronat (Juvederm®) sebanyak 1 mL ke pita suara kiri. Evaluasi satu minggu pasca tindakan menunjukkan rima glotis hampir menutup sempurna dengan bowing minimal, dan pasien melaporkan perbaikan suara yang signifikan tanpa komplikasi. Pemeriksaan lanjutan hingga satu tahun pasca injeksi menunjukkan kualitas suara yang masih baik dan penutupan rima glotis yang masih optimal. Injeksi asam hialuronat terbukti sebagai terapi korektif yang aman dan efektif untuk insufisiensi glotis pasca tuberkulosis paru. Terapi ini direkomendasikan terutama pada pasien dengan kelumpuhan pita suara akibat penyebab reversibel setelah infeksi aktif teratasi, guna mencegah inflamasi lanjutan dan mempercepat pemulihan fungsi vokal.