James Aloysius Darmapuspita
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Perbedaan derajat depresi pada mahasiswa kedokteran tahap profesi Wikrama Lokapradhana Jayaputra; James Aloysius Darmapuspita
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.37842

Abstract

Mahasiswa profesi dokter menghadapi berbagai tuntutan akademik dan klinis yang berpotensi meningkatkan risiko depresi. Perbedaan beban pada setiap tahapan stase diduga memengaruhi derajat depresi, namun bukti mengenai perbedaannya masih terbatas. Studi ini bertujuan membandingkan derajat depresi pada mahasiswa profesi dokter berdasarkan tahapan stase. Studi analitik dengan desain potong lintang dilakukan pada 222 mahasiswa profesi dokter Universitas Tarumanagara periode Mei–Juni 2025 menggunakan consecutive sampling. Derajat depresi diukur menggunakan Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) dan Beck Depression Inventory-II (BDI-II). Responden dikelompokkan menjadi stase awal, tengah, dan akhir. Analisis perbedaan antar kelompok dilakukan menggunakan uji One-Way ANOVA. Berdasarkan PHQ-9, mayoritas responden mengalami depresi minimal/tidak depresi (46,9%), diikuti depresi ringan (26,1%), sedang (16,2%), sedang-berat (7,2%), dan berat (3,6%). Hasil BDI-II juga menunjukkan sebagian besar responden berada pada kategori depresi minimal (71,2%). Mahasiswa stase akhir memiliki proporsi gejala depresi lebih tinggi dibandingkan kelompok lain berdasarkan PHQ-9, sedangkan pada BDI-II skor lebih tinggi ditemukan pada stase awal. Namun, tidak terdapat perbedaan derajat depresi yang bermakna secara statistik antar tahapan stase (p>0,05).Tahapan stase tidak berhubungan secara signifikan dengan derajat depresi pada mahasiswa profesi dokter. Upaya skrining dan dukungan kesehatan mental tetap diperlukan pada seluruh tahapan pendidikan profesi.